Thursday, March 11, 2010

TATA, BETY DAN ISTI

YANG KESEHARIANNYA SELALU MENEMANIKU
Oleh: Aba

Engkau tahu, keseharianku selalu bersama Tata, ia selalu menemaniku, ia juga telah memberi peluaang padaku untuk mencari kawan setia pula, maka itu aku ajak ia ke sebuah market tak jauh dari tempat tinggalku, dan aku menjumpai Bethy (--atau untuk enaknya bagi lidah kita ditulis aja Bety--), kala itu Bety sedang bersandar di sebuah etalase toko. Aku sudah kenal Bety sejak aku di Indonesia dulu, maka aku ajak Bety bersama Tata untuk menyertaiku. Oh…, iya, kalau aku kerja Isti selalu menemaniku pula barang 30 menit, maksudnya agar urat-uratku yang kaku bisa lentur kembali.



Tahukah engkau, apa nama lengkap mereka?. Nama lengkap Tata adalah Toyota, sedang nama lengkap Bety adalah Bethoven, maksudnya CDnya Bethoven, sedang nama lengkap Isti adalah Istirahat, maksudnya istirahat kerja. Tengok tuh…, si Tata lagi menyendiri, entah apa pula yang dipikir…!!!. Hehe

Tuesday, March 9, 2010

PROFIL ABA


Oleh: Aba

Lebih dari setengah abad yang lalu aku dilahirkan di sebuah pulau di Laut Jawa, yaitu Pulau Bawean, Kabupaten Surabaya (sekarang Kabupaten Gresik). Aku sekolah di SD pada pagi-siang hari dan bermadrasah pada siang-sore hari, selepas maghrib dan selepas subuh mesti mengaji. Oh…, iya…, TK alias Taman Kanak-kanak belum ada waktu itu.

Salah satu hal yang paling berkesan selama aku di Bawean dulu adalah aku belajar silat bersama kawan seperguruanku, mulanya di perguruannya R. Amir yang biasa dipanggil Mak Amir (Sawah Luar), setelah dinyatakan tamat dan dimandikan dengan air ‘bunga setaman’ yang ada silet, kain putih serta disembelihkan ayam putih sebagaimana lazimnya dunia perguruan silat di Bawean, aku pindah ke perguruannya pak Fadli (Sawah Daya), juga hingga dimandikan, dan di perguruan ini pula aku belajar Tembung dan Tik-pi (Trisula), setelah itu aku pindah ke perguruannya mak Ude Hasyim (Daya Bata), beliau adalah putra daripada KH. Kasim, Tokoh Kemerdekaan yang namanya diabadikan sebagai salah-satu nama Jalan Raya di Sangkapura.


Selepas SMA aku melanjutkan ke Perguruan Tinggi, aku mengambil bidang studi ilmu hukum. Untuk tingkat Sarjana Muda (waktu itu paling cepat 3 tahun/6 semester) lalu aku melanjutkan pada tingkat Sarjana (waktu itu paling cepat 2 tahun/4 semester). Jadi untuk tingkat Sarjana Muda dan Sarjana paling cepat 5 tahun (waktu itu tak banyak yang mampu menyelesaikan tepat waktu, sistem lama berbeda dengan di masa kini), sedang untuk tingkat Magister aku mengambil bidang Sosiologi.
Aku bukan tipe mahasiswa Mahkarol (rumah, kampus dan ngobrol), melainkan aku juga ikut ambil bagian di kegiatan kemahasiswaan, baik intra maupun ekstra.


Monday, March 8, 2010

MAULUDAN DI MASJID REVERVALE PERTH WESTERN AUSTRALIA

Oleh: Aba

Ustadz Badrun Akhwan (asal Dusun Padek Desa Lebak Sangakapura Bawean Kab. Gresik) Sedang Mengarahkan Acara

Setiap tahun acara peringatan hari kelahiran Rasulullah SAW dirayakan oleh kalangan kaum muslimin di berbagai tempat, termasuk di Western Australia. Dalam kesempatan ini dikemukakan sebagian foto-foto (dokumentasi) acara yang digelar di Masjid Revervale. BERITA LEBIH LENGKAP DAPAT DIAKSES DI NU ONLINE, Klik GOOGLE, Ketik: nu online kegiatan maulid nabi di western australia semarak, lalu enter.


Jamaah Sedang Mengikuti Jalannya Acara


Group Kompang (Hadrah) dan Jamaah Sedang Menuju ke Masjid


Group Kompang Telah Sampai Di Masjid, Saat Ini Berada Di Sisi Masjid


Kaum Ibu Sedang Mengikuti Jalannya Acara


Para Santri (Masjid Revervale) Sedang Unjuk Kebolehan

(Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan di antara kamu beberapa derajat (Q:S:58:11); Menuntut ilmu itu diwajibkan atas kaum muslimin dan muslimat (al-Hadist) .


Ramah-tamah Bersama Petinggi Masjid (Memakai Kopiah Putih Adalah Imam Masjid)

REUNI

Oleh: A. Fuad Usfa

(CERPEN)

Tulisan ini hanyalah sebuah fiksi, oleh sebab itu manakala terdapat kesamaan/persinggungan ataupun hal yang kurang berkenan sungguh di luar kesengajaan, untuk itu kiranya mohon maaf dan maklum adanya.
Western Australia, Awal Musim Gugur di tahun 2010.
Fahri, betapa beruntungnya wanita yang mendapatkan engkau Fahri… Demikian kata kaum ibu dan wanita-wanita muda di kampungnya. Kala Fahri masih anak-anak, masih ingusan, ia hanya melongo-longo saja mendengar celotehan mereka.

Fahri lahir di sebuah kampung kecil, tidak jauh dari Danau Kastoba. Hari-hari ia selalu datang bermain di danau. Entah mengapa gerangan ia begitu suka di situ. kadang mandi, mancing, serta bernmain sebagaimana laiknya anak-anak seusianya. Sering pula ia sendirian saja, itulah sebabnya orang tua Fahri sering merasa risau atas kebiasaan Fahri, padahal danau itu kata orang ada ‘penunggunya’. Oleh sebab kebiasaan itu pulalah Fahri mendapat julukan si anak danau.

Si anak danau itu berkulit putih, hidung mancung, rambut kecoklatan sedang matanya kebiru-biruan. Entah mengapa ia semacam itu. Kata orang-orang, sewaktu si ibu mengandungnya dulu, datang sekelompok orang bule kemping di padang danau, demi melihat orang-orang asing itu sang ibu terkejut, maka itu Fahri jadi kopiannya bule-bule itu. Demikian kisahnya menurut orang-orang di kampungnya.

Pendidikan dasar Fahri ditempuh di kampung kelahirannya, prestasinya bagus. Selepas SD ia melanjutkan studinya ke Sangkapura. Di Kota Kawedanan Bawean itu ia melanjutkan studi di SMP, di SMP itu pulalah seorang gadis nan cantik jelita, imut-imut, bagaikan kuntum mawar yang sedang mekar bersekolah. Nama gadis itu Wardah, bukankah wardah bermakna mawar?, pandai nian orang tuanya memilihkan nama. Namun Wardah tidak sampai tamat di situ, sebab baru satu tahun berjalan, saat kenaikan ke kelas 2 orang tua Wardah pindah tugas kerja yang tentu Wardah ikut juga bersamanya. Mereka pindah ke tanah Jawa.


Walau masih kecil Fahri sudah punya rasa tertarik pada Wardah, tapi ia tak dapat berbuat apa-apa, maklumlah masih terlalu kanak-kanak, namun perasaan itu begitu bergejolak dalam hatinya, inikah kiranya sentuhan cinta pertama?. Oleh sebab itu kepergian Wardah sempat membikinnya tiada dapat tidur, makanpun tiada enak. Indahnya mawar selalu terbayang di pelupuk matanya. Bagaimana dengan Wardah?, ternyata sang mawarpun merasakan suatu hal yang sama, ketampanan Fahri selalu bermain di alam bayangnya.

Waktu telah berjalan, hari berganti hari, lalu datanglah minggu, disusul bulan dan berbilanglah tahun, tentu bayangan kuntum mawar sudah tiada lagi, demikian pula bayang ketampanan si anak danau, semua telah ditelan sang waktu, bagai sirnanya embun ditelan cahaya sang surya.

Setelah Fahri lulus dari SMU, yang juga ditempuhnya di Kota Kawedanan yang sama ia kembali ke kampungnya. Ketampanan dan ahlak Fahri telah menjadi buah bibir, yang serasa menjadi hiasan di setiap tiupan angin di serata pulau Bawean, keharuman namanya bagai keharuman kasturi, ketampanannya bagai hendak menggapai ketampanan Yusuf.

Di saat Dies Natalis SMPnya, diadakanlah reuni. Alumni pada hadir di hari bersejarah bagi sekolahnya itu. Di sele-sela hadirin Wardah hadir walau terlambat, ia mengenakan gaun panjang berwarna keunguan dan ia duduk persis di sebelah Fahri. Fahri hampir tak mengenalnya, sang mawar menyapa Fahri, Fahri jadi gugup dan oh..., Wardah..., bisiknya (ia hampir tak percaya). ‘Apa kabar Wardah…?’. Fahri balik menyapanya, ‘baik Fahri…’ jawab Wardah. Oh…, iya…, Wardah tinggal di mana selama ini?’, tanya Fahri, ‘di Surabaya Fahri…’, jawabnya, ‘sudah berapa lama kita tiada bertemu ya…’, sambung Wardah, ‘oh…, iya…, sudah lama Wardah…’, jawab Fahri, ‘aku jadi pangling sama kamu…, kamu makin cantik…, cantik sekali’, tambah Fahri memujinya. Ternyata Wardah kini masih selincah Wardah di kala masih duduk di bangku SMP bersamanya dulu, pujian Fahri menggerakkan refleks jari-jemarinya nan lentik, ia mencubit lengan Fahri yang memakai kemeja lengan panjang, Fahri jadi GR juga dibuatnya. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa ia begitu menaruh simpati padanya, serta menceriterakan bagaimana perasaannya dulu, kala ditinggal Wardah pindah sekolah, tapi tentu waktu dirasa tiada memberi peluang. Memang, acara sudah menjelang usai, dan Wardah hadir terlambat karena ada acara peribadinya yang tak mungkin bisa dilewatkan.

Kala acara telah usai Fahri mengantarnya hingga di halaman sekolah yang persis berada di tepi jalan raya. Dari arah barat tiba-tiba datang sebuah mobil sedan menepi, lalu dengan mengucapkan salam pada Fahri Wardah menuju mobil itu, ‘assalamualaikum Fahri, sampai jumpa’, ucapnya. Fahri hanya tertegun, bertepatan saat itu datang seorang kawannya menyapa Fahri, ‘apa kabar Fahri’, sapanya. Lalu ia bertanya pada Fahri apakah ia sudah dapat undangan dari Wardah. Tentu Fahri berupaya untuk tidak menunjukkan sikap sejatinya, yang tiba-tiba menjadi gugup atas pertanyaan kawannya, tiba-tiba ia menduga Wardah akan melangsungkan pernikahan, lalu Fahri hanya menjawab, tidak. Lalu temannya itu bilang bahwa Wardah akan bertunangan dalam minggu ini, orang tuanya telah menjodohkan dengan seorang menejer muda sebuah Bank di Surabaya.



Keesokan harinya Wardah ke rumah Fahri menyampaikan undangan, ya…, hanya menyampaikan undangan saja, sebab masih ada beberapa undangan untuk kawan-kawan sekelas di SMPnya dulu yang berasal dari Kecamatan Tambak. Sebagai seorang wanita yang berperasaan halus, ditambah sifat kedewasaannya, Wardah seakan mampu menyelami lubuk hati Fahri, Wardah tersenyum dengan kulum senyum nan indah, lalu ia 'berbisik', ‘jodoh di tangan Tuhan Fahri…, aku menunggu undanganmu, sebagaimana aku mengundangmu di saat ini..., aku berharaap engkau dapat hadir di malam pertunanganku, aku berharap doamu Fahri…’, dan dengan lembut ia berucap salam, ‘assalamualaikum Fahri…, aku berharap kehadiranmu’, lalu Wardah melanjutkan perjalanannya. Fahri paham, ya…, jodoh di tangan Tuhan. Dengan gontai Wardah melangkah meninggalkan Fahri, dan selang beberapa langkah ia bergumam sendiri, 'sejujurnya harus aku akui, bahwa engkau adalah cinta pertamaku Fahri...'. Wardah masuk mobil, lalu dengan perlahan mobil bergerak, melaju, dan terus melaju meninggalkan desa yang damai.

REUNI

Oleh: A. Fuad Usfa

(CERPEN)

Tulisan ini hanyalah sebuah fiksi, oleh sebab itu manakala terdapat kesamaan/persinggungan ataupun hal yang kurang berkenan sungguh di luar kesengajaan, untuk itu kiranya mohon maaf dan maklum adanya.
Western Australia, Awal Musim Gugur di tahun 2010.
Fahri, betapa beruntungnya wanita yang mendapatkan engkau Fahri… Demikian kata kaum ibu dan wanita-wanita muda di kampungnya. Kala Fahri masih anak-anak, masih ingusan, ia hanya melongo-longo saja mendengar celotehan mereka.

Fahri lahir di sebuah kampung kecil, tidak jauh dari Danau Kastoba. Hari-hari ia selalu datang bermain di danau. Entah mengapa gerangan ia begitu suka di situ. kadang mandi, mancing, serta bernmain sebagaimana laiknya anak-anak seusianya. Sering pula ia sendirian saja, itulah sebabnya orang tua Fahri sering merasa risau atas kebiasaan Fahri, padahal danau itu kata orang ada ‘penunggunya’. Oleh sebab kebiasaan itu pulalah Fahri mendapat julukan si anak danau.

Si anak danau itu berkulit putih, hidung mancung, rambut kecoklatan sedang matanya kebiru-biruan. Entah mengapa ia semacam itu. Kata orang-orang, sewaktu si ibu mengandungnya dulu, datang sekelompok orang bule kemping di padang danau, demi melihat orang-orang asing itu sang ibu terkejut, maka itu Fahri jadi kopiannya bule-bule itu. Demikian kisahnya menurut orang-orang di kampungnya.

Pendidikan dasar Fahri ditempuh di kampung kelahirannya, prestasinya bagus. Selepas SD ia melanjutkan studinya ke Sangkapura. Di Kota Kawedanan Bawean itu ia melanjutkan studi di SMP, di SMP itu pulalah seorang gadis nan cantik jelita, imut-imut, bagaikan kuntum mawar yang sedang mekar bersekolah. Nama gadis itu Wardah, bukankah wardah bermakna mawar?, pandai nian orang tuanya memilihkan nama. Namun Wardah tidak sampai tamat di situ, sebab baru satu tahun berjalan, saat kenaikan ke kelas 2 orang tua Wardah pindah tugas kerja yang tentu Wardah ikut juga bersamanya. Mereka pindah ke tanah Jawa.


Walau masih kecil Fahri sudah punya rasa tertarik pada Wardah, tapi ia tak dapat berbuat apa-apa, maklumlah masih terlalu kanak-kanak, namun perasaan itu begitu bergejolak dalam hatinya, inikah kiranya sentuhan cinta pertama?. Oleh sebab itu kepergian Wardah sempat membikinnya tiada dapat tidur, makanpun tiada enak. Indahnya mawar selalu terbayang di pelupuk matanya. Bagaimana dengan Wardah?, ternyata sang mawarpun merasakan suatu hal yang sama, ketampanan Fahri selalu bermain di alam bayangnya.

Waktu telah berjalan, hari berganti hari, lalu datanglah minggu, disusul bulan dan berbilanglah tahun, tentu bayangan kuntum mawar sudah tiada lagi, demikian pula bayang ketampanan si anak danau, semua telah ditelan sang waktu, bagai sirnanya embun ditelan cahaya sang surya.

Setelah Fahri lulus dari SMU, yang juga ditempuhnya di Kota Kawedanan yang sama ia kembali ke kampungnya. Ketampanan dan ahlak Fahri telah menjadi buah bibir, yang serasa menjadi hiasan di setiap tiupan angin di serata pulau Bawean, keharuman namanya bagai keharuman kasturi, ketampanannya bagai hendak menggapai ketampanan Yusuf.

Di saat Dies Natalis SMPnya, diadakanlah reuni. Alumni pada hadir di hari bersejarah bagi sekolahnya itu. Di sele-sela hadirin Wardah hadir walau terlambat, ia mengenakan gaun panjang berwarna keunguan dan ia duduk persis di sebelah Fahri. Fahri hampir tak mengenalnya, sang mawar menyapa Fahri, Fahri jadi gugup dan oh..., Wardah..., bisiknya (ia hampir tak percaya). ‘Apa kabar Wardah…?’. Fahri balik menyapanya, ‘baik Fahri…’ jawab Wardah. Oh…, iya…, Wardah tinggal di mana selama ini?’, tanya Fahri, ‘di Surabaya Fahri…’, jawabnya, ‘sudah berapa lama kita tiada bertemu ya…’, sambung Wardah, ‘oh…, iya…, sudah lama Wardah…’, jawab Fahri, ‘aku jadi pangling sama kamu…, kamu makin cantik…, cantik sekali’, tambah Fahri memujinya. Ternyata Wardah kini masih selincah Wardah di kala masih duduk di bangku SMP bersamanya dulu, pujian Fahri menggerakkan refleks jari-jemarinya nan lentik, ia mencubit lengan Fahri yang memakai kemeja lengan panjang, Fahri jadi GR juga dibuatnya. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa ia begitu menaruh simpati padanya, serta menceriterakan bagaimana perasaannya dulu, kala ditinggal Wardah pindah sekolah, tapi tentu waktu dirasa tiada memberi peluang. Memang, acara sudah menjelang usai, dan Wardah hadir terlambat karena ada acara peribadinya yang tak mungkin bisa dilewatkan.

Kala acara telah usai Fahri mengantarnya hingga di halaman sekolah yang persis berada di tepi jalan raya. Dari arah barat tiba-tiba datang sebuah mobil sedan menepi, lalu dengan mengucapkan salam pada Fahri Wardah menuju mobil itu, ‘assalamualaikum Fahri, sampai jumpa’, ucapnya. Fahri hanya tertegun, bertepatan saat itu datang seorang kawannya menyapa Fahri, ‘apa kabar Fahri’, sapanya. Lalu ia bertanya pada Fahri apakah ia sudah dapat undangan dari Wardah. Tentu Fahri berupaya untuk tidak menunjukkan sikap sejatinya, yang tiba-tiba menjadi gugup atas pertanyaan kawannya, tiba-tiba ia menduga Wardah akan melangsungkan pernikahan, lalu Fahri hanya menjawab, tidak. Lalu temannya itu bilang bahwa Wardah akan bertunangan dalam minggu ini, orang tuanya telah menjodohkan dengan seorang menejer muda sebuah Bank di Surabaya.


Keesokan harinya Wardah ke rumah Fahri menyampaikan undangan, ya…, hanya menyampaikan undangan saja, sebab masih ada beberapa undangan untuk kawan-kawan sekelas di SMPnya dulu yang berasal dari Kecamatan Tambak. Sebagai seorang wanita yang berperasaan halus, ditambah sifat kedewasaannya, Wardah seakan mampu menyelami lubuk hati Fahri, Wardah tersenyum dengan kulum senyum nan indah, lalu ia 'berbisik', ‘jodoh di tangan Tuhan Fahri…, aku menunggu undanganmu, sebagaimana aku mengundangmu di saat ini..., aku berharaap engkau dapat hadir di malam pertunanganku, aku berharap doamu Fahri…’, dan dengan lembut ia berucap salam, ‘assalamualaikum Fahri…, aku berharap kehadiranmu’, lalu Wardah melanjutkan perjalanannya. Fahri paham, ya…, jodoh di tangan Tuhan. Dengan gontai Wardah melangkah meninggalkan Fahri, dan selang beberapa langkah ia bergumam sendiri, 'sejujurnya harus aku akui, bahwa engkau adalah cinta pertamaku Fahri...'. Wardah masuk mobil, lalu dengan perlahan mobil bergerak, melaju, dan terus melaju meninggalkan desa yang damai.

Saturday, March 6, 2010

THE HAUNTED WINDOW

Oleh: Alba Fathiya Natasya (Alba Fuad)

Our family was moving to anew house today, a two storey house. I went upstairs to see my room and all my gear were there. My brother’s room right next to my room and my parent’s room were down stairs.
Pengambilan Foto: Di Pantai Kuta Bali

The next day I woke up and looked outside. It was a nice cold Friday morning. I went outside then looked at the garden, the flowers were pretty.
“MUM!” Kev cried as loud as if the thunder were going to kill us all. Mum went upstairs to get him, while dad went to the bathroom to have a nice warm bath. It was 12:00 pm and everybody was having fun outside but not later on that night. I tried to sleep but I kept seeing a shadow whenever I closed the window, I opened the window but I couldn’t see anyone or anything outside, except for the trees, so I went back to bad and hoped it was just a dream.

In the morning I wake my mum and dad up, I told them about what happened last night but they wouldn’t believe me. I walked outside of the house and there it was, I saw it again! That shadow that I had seen last night were there, in the sunshine where ghost/ shadows shouldn’t exist.
“MUM! DAD!” I screamed. Mum and dad came running to me.
“It’s the shadow I had seen last night,” I told them but they wouldn’t believe me.
“There’s no such thing,” dad answered.
“B…B…B…But I sa…,” I started to say but then mum interrupted me.
“Your dad’s right, honey, there’s no such thing.”
“Mum!” I started complaining but then my dad pushed me towards the car. On the way to the shopping centre I saw the shadow again but this time it was outside the car window and it’s following dad’s car. I was going to tell mum and dad but they wouldn’t believe me anyway.

The next week I could still see that shadow but no one would believe me. I called my best friend, Jenny and she didn’t believe it either, instead she laugh.
“Why won’t anyone believe me?” I told Jenny on the phone
“Because there is no such thing,” Jenny answered back, snickering trying not to laugh,
“I can hear you, you know,” I continued talking.

The next week I told my mum to stay with me for the night and she said yes. Luckily she saw the shadow and told dad. Dad stayed with me the next night and he believed me too. My brother saw it too and so did Jenny, my best friend. Jenny saw it when she had a sleepover at my house.

We moved house the next month. Nothing was that scary anymore at night. I was happy and so was everyone else. My dad found out who the ghost probably was. It was the first people who lived there, the whole family had been murdered in the house and it was a kid. They closed down the house so it won’t scare another family.
“I’m so glad we moved house and we’re sorry that we didn’t believe you, Jas,” dad told me as he walked up to me and put his arm around my shoulders.
“It’s okay dad, I’m just glad that you guys saw it and believed me at the end,” I answered looking grumpy. Everyone was happy about this new house and the best thing is that it doesn’t have any ghost.


Wednesday, March 3, 2010

FOTO ABA

Oleh: Aba


Dalam foto itu yang mana Aba ya...?!
Du..., iye..., roa'i... se akaos biru, agaya kean ye...!!!


NGONCONG-NGONCONG

Oleh: Aba





ADUH..., NGONCONG-NGONCONG YE....!!!

BENGALAN

Oleh: Aba





ONGGU SE BENGALAN YE....!!!


KOKONCONGAN

Oleh: Aba
ADUH, ADUH, TAMBE KA KOKONCONGAN YE... GERANGNA YE... ONGGUNA YE....!!!

AKU

Oleh: A. Fuad Usfa

Aku
Aku ingin menjadi aku adalah aku
Tapi, aku tak mungkin mengatakan
Sesuatu yang jelas tak mungkin
Sebab fakta telah nyata
Aku adalah engkau
Aku adalah kami
Aku adalah kita
Akupun adalah mereka
Atau, yang mungkin pula hanya secercah yang aku tak tahu pasti
Aku adalah aku
Aku adalah semua

Yang nyata
Aku adalah sebatang badan
Sekelebat jiwa
Segumpal otak dan detak hati

Ya…, sebatang badan terpaku di atas bumi
Hanya perlu sejengkal tanah
Walau sekalipun menjelajah berbagai negeri
Tapi, jiwa dan otak serta hatiku
Melanglang buana
Bukan hanya menjelajah bumi
Melainkan menembus tata surya
Menjelajah tujuh langit
Hingga menembus kealam uhrawi
Tapi, itu semua bukan karena aku
Tapi karena engkau
Karena kami
Karena kita
Karena mereka
Atau, mungkin karena secercah aku

Yang nyata, yang aku tertahu
Aku
Engkau
Kami
Kita
Mereka
Semua
Adalah mahluk Tuhan.

Western Australia, 3 Maret 2010

MENGGAYUH MEMAHAMI EKSISTENSI TUHAN

Oleh: A. Fuad Usfa Eksistensi Tuhan Berbicara tentang Tuhan berarti berbicara suatu yang gaib, abstrak. Tidak bisa ditangkap dengan penca in...