Sunday, April 24, 2011

Pendidikan: Menyambut Hari Pendidikan Nasional

KONSEP PENDIDIKAN BERBASIS POTENSI DIRI



(Tinjauan Kritis Atas Pola Pendidikan Nasional Indonesia, Suatu Pendekatan Komparatif)
Oleh: Aba




Tulisan ini merupakan autokritik secara mendasar atas pola pendidikan Nasional kita yang lebih melihat peserta didik sebagai obyek, dan dengan mengajukan alternatif untuk melihat peserta didik sebagai subyek, yang bertumpu pada kodrat kemanusiaan.




Perth, Western Australia
1. Pendahuluan
Lebih dari dua puluh tahun penulis menggeluti dunia pendidikan pada lembaga pendidikan tinggi, di Indonesia, yaitu terhitung mulai jenjang Asisten Dosen. Pada tiga tahun pertama penulis sebagai asisten dosen di tiga Perguruan Tinggi Swasta di kota Malang Jawa Timur, salah satu kota yang dikenal sebagai Kota Pendidikan. Penulis juga pernah menjabat sebagai Dekan, dan sebelum itu sebagai Pembantu Dekan I (bidang akademik), suatu jabatan strategis untuk pembinaan akademik di bidang kami. Penulis juga telah mendapat kesempatan melakukan studi banding ke berbagai lembaga pendidikan di dalam dan luar negeri, baik atas prakarsa lembaga maupun atas prakarsa sendiri. Dari sini pula penulis menatap keperihatinan bagi pengelolaan pendidikan di Indonesia. Suatu sistem pendidikan yang sarat dengan formalitas dan penekanan (-untuk menghindari istilah penindasan-) bagi peserta didik. Pola kurikulum yang amburadul, sangat padat dan sering tidak konsisten sebagai lembaga pendidikan yang mestinya berorientasi keilmuan, pengulangan berbagai subyek yang membikin amat menjemukan.

Penulis tiada bermaksud menjelaskan pernyataan di atas. Dalam kaitan dengan itu penulis hanya akan berbicara apakah pola pendidikan kita telah dibina atas dasar potensi akademik, minat dan bakat peserta didik, -yang penulis sebut potensi diri- ?.

2. Potensi
Potensi adalah merupakan kemampuan dasar yang belum terungkap. Setiap manusia punya potensi untuk mengembangkan dirinya . Untuk pengungkapan itu diperlukan suatu kondisi di luar dirinya. Lembaga pendidikan adalah merupakan suatu lembaga formal yang mempunyai tugas utama untuk mengungkap dan mengembangkan potensi diri setiap peserta didik. Maka itu dalam mengevaluasi peserta didik didik seharusnyalah secara individu, tidak general, pola pendekatan semacam ini adalah merupakan pola pendekatan yang manusiawi, sebab setiap peserta didik adalah merupakan subyek bukan obyek. Berbeda dengan pendekatan general yang mekanistik, yang mamahami manusia (-dalam hal ini, peserta didik-) sebagai obyek, yang harus tunduk pada kekuasaan-kekuasaan di luar dirinya, yang mana mereka digiring ke arah tertentu dengan kekuatan yang mungkin saja di luar kemampuan dirinya, -atau mungkin tidak diinginkannya-, dan segala ukuran keberhasilan pun ditentukan di luar dirinya, dan tak ada jalan lain.

Semestinya setiap individu peserta didik berhak untuk mengembangkan dirinya sesuai potensi diri, secara alamiyah, wajar, tanpa tekanan ataupun ancaman dan bayang-bayang ketakutan dari terror lembaga yang mengatasnamakan pendidikan, yang mesti mereka jalani, mau/tidak mau. Dari situ pula reputasi dirinya dipertaruhkan, stigma akan datang dengan sendirinya sebagai hukuman-hukuman yang sangat tidak adil. Padahal mereka tidak lain merupakan korban daripada sikap otoriter penguasa, peletak dasar konsep pendidikan formal yang tiada pernah melihat potensi cemerlang dirinya secara individual. Dari situlah maka peserta didik dipaksa dengan dipacu untuk menyesuaikan diri dengan kehendak di luar dirinya, kursus-kursus yang melelahkan harus diikuti -setidaknya- dari berbagai subyek utama yang telah dipatok oleh pihak yang berwenang untuk itu, tiada pilihan lain, kecuali harus tunduk pada kekuatan itu, walaupun harus mengalami kelelahan, yang mungkin bukan seketika itu, melainkan di saat lain, pada titik jenuh.

3. Sistem Evaluasi
Kita perhatikan dalam sistem evaluasi peserta didik di negara kita, evaluasi semester, kenaikan kelas, kelulusan jenjang, semua menegangkan, 'ancaman/terror' psikologis bagi peserta didik, bahkan juga bagi orang tua.

4 Biang Kecurangan
Pokoknya mereka harus lulus dari semua itu, dan kadang juga dengan menghalalkan segala macam cara, kecurangan-kecurangan dalam evaluasi semester, ujian/evaluasi kenaikan kelas, evaluasi kelulusan jenjang, hingga jual-beli nilai, pemalsuan ijasah atau jual-beli ijasah asli tapi palsu, penyelenggaraan pendidikan yang tak lebih sekedar formalitas dan dengan mudah mengeluarkan ijasah -dan gelar- asal sanggup membayar, dan lain-lain yang sudah terlalu nyalang, dan bahkan juga telah diketahui oleh peserta didik (siswa/mahasiswa), dan bahkan tak kurang yang dengan keterlibatan orang tua mereka, terpaksa atau tidak. Belum lagi dengan maraknya berbagai isu rekayasa yang dilakukan oleh lembaga untuk memperoleh jenjang akreditasi yang melibatkan semua pihak pengelola lembaga pendidikan. Penulis berpikir, suatu pola pembelajaran dan pendidikan kemunafikan yang sempurna, dan kita tiada menyadarinya, oleh sebab berada di bawah alam sadar kita, namun 'mesin itu tetap berjalan membentuk pribadi kita. Suatu mata rantai yang saling terkait dan merupakan lingkaran setan.

5. Perlunya alternatif ke arah pendidikan yang alami
Belajar dari orang lain baik-baik saja, banyak pembelajaran yang bisa kita ambil dari orang lain. Kita mesti tidak segan membuang yang jelek walau datangnya dari pihak kita sendiri, dan tak malu mengambil yang baik walau datangnya dari orang lain, demikian orang bijak berkata.




Sebagai suatu perbandingan, penulis pikir menarik untuk melirik pola pembelajaran dan pendidikan yang diterapkan di Australia. Beberapa hal yang perlu penulis utarakan bahwa Australia menerapkan pola pembelajaran peserta didik aktif (pedia), semua peserta didik dikondisikan untuk aktif, evaluasi bersifat personal, potensi akademik, bakat dan minat betul-betul diperhatikan, oleh sebab itu berbagai penghargaan (reward) semisal berupa pemberian sertifikat, stiker-stiker yang melambangkan penghargaan atas segala prestasi untuk berbagai bidang subyek, present, sedapat mungkin memfasilitasi atas segala prestasi akademik, bakat serta minat peserta didik. Guru mencermati potensi/prestasi akademik, bakat serta minat yang berjalan secara alami, untuk selanjutnya dikembangkan. Para peserta didik tidak dipaksa untuk menguasai bidang tertentu yang telah dipatok oleh Lembaga atau Pemerintah (general), kemampuan adalah kemampuan diri secara alami, bukan karena tekanan-tekanan yang membebani peserta didik dan yang juga akan menyebabkan kerisauan orang tua. Semua dikondisikan secara wajar, alami, pengakuan atas kemampuan diri ditanamkan sejak dini (jujur diri), sehingga tidak perlu memaksakan diri lebih dari kemampuan. Penulis pikir, teori dasar adalah, bahwa setiap individu mempunyai kelebihan masing-masing, persoalannya bagaimana kita mesti mengolah dan mengembangkan kemampuan itu, apapun bentuknya. Ukuran prestasi bukan bagaimana peserta didik bisa memenuhi pesanan yang telah dipatok oleh Lembaga dan/atau Pemerintah, melainkan bagaimana peserta didik mampu mengembangkan potensi diri.

Thursday, April 21, 2011

HARGA BENSIN

Oleh: Aba


Harga bensin hari ini $1.51c point 9. Harga bensin dalam minggu ini berkisar antara $1.38 poin 9 hingga $1.51c point 9. Di sini harga BBM tidak selalu konstan, selalu naik turun antara bentangan tertentu. Namun si tata ku sayang yang selalu menemani aku dengan setia telah aku penuhi kemaren siang dengan mendapat harga $1.48c poin 9, untuk satu minggu ke depan.

Monday, April 18, 2011

KEBEBASAN BERAGAMA DI AUSTRALIA

Oleh: A. Fuad Usfa

Kebebasan mempunyai makna merdeka dalam menentukan. Maka kebebasan beragama bermakna merdeka menentukan dalam memilih agama atau keyakinan, --tentu dengan berbagai tafsirannya--. 'La ikraha fiddin', dalam bahasa Undang-undang Dasar 1945 pasal 29 ayat (2) dinyatakan, 'Negara menjamin tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu'. Penulis tegaskan kata 'menjamin tiap-tiap penduduk'.

Di dunia ini terdapat berbagai macam agama dan kepercayaan serta berbagai tafsiran terujud pula, dalam hal ini tentu tak terkecuali di Australia. Sudah sama kita tahu bahwa Australia adalah merupakan Negara sekuler, Negara yang memisahkan secara tegas urusan agama dari urusan kenegaraan. Agama masuk dalam ranah individu, Negara menaungi di antara semua agama dan keyakinan serta pemeluknya. Sebagaimana dalam aktifitas sosial lainnya, aktifitas sosial keagamaan tidak boleh -justru- menciptakan kegoncangan sosial, terjadi berbagai/segala bentuk pemaksaan dan/atau intimidasi. Semua mesti menghargai hak setiap individu dalam menentuka pilihannya secara elegan. Dalam pengamatan penulis selama di Western Australia, keberadaan agama dan keyakinan serta ummat beragama dan keyakinan diletakkan pada posisi seperti itu, aktifitas keagamaan dan keyakinan warga Negara/penduduk tidak terhalang, berbagai ritual keagamaan dan keyakinan serta berbagai perayaan dari berbagai agama dan keyakinan di selenggarakan di mana-mana, dalam hal berpakaian tak terkecuali, materi-materi hotbah ataupun ceramah tidak ada sensor apapun baik itu disampaikan oleh warga Negara ataupun orang asing. Dalam pada ini kebebasan beragama dan keyakinan merupakan kebebasan azasi, bukanlah kebebasan semu.
------

Catatan:
Kebebasan semu artinya adalah berbunyi bebas namun faktanya tiada kebebasan itu kecuali hanya untuk sepihak. Secara iilustratif dapat digambarkan demikian, bebas tapi untuk aku/kelompokku (note: selalunya mayoritas), namun untuk engkau tentu beda, maka jangan coba-coba, bila engkau teruskan bisa kami bakar tempat ibadah yang engkau bangun, dan tentu keselamatanmu/kalian akan terus terancam. Atau dalam bentuk intimidasi lain. Kondisi semacam ini justru acap terjadi di Negara kita, yaitu dengan cara diorganisir atas nama kebenaran agama dalam tafsirannya secara sepihak.

KALAMUNDA

Oleh: Aba


Dari Gosnel kami mengendara mobil, beranjak ke arah utara, kemudian meluncur memasuki high way dengan kecepatan maksimal 100 Km/jam lalu berbelok memasuki jalan biasa dengan kecepatan maksimal 60 Km/jam selanjutnya memasuki kawasan tananjakan namun cukup landai, udara segar terasakan dari hembusan angin bush dan semak-semak. Sepanjang perjalanan kami menikmati pemandangan indah, asri nan menawan hati. Udara pagi menerpa masuk melalui jendela mobil yang sengaja kami buka. Sampailah kami di suatu kawasan yang bernama Kalamunda, persis disisi area pasar tradisional, di area parkir yang telah dipenuhi mobil pengunjung dari berbagai kawasan itu kami berhenti. Pasar ini merupakan pasar bulanan, dibuka di setiap hari Sabtu, pada minggu awal dalam setiap bulannya, dan pasar ini adalah pasar terbuka, di alam terbuka, terbentang di sepanjang lorong dan 'hutan' kecil dengan berbagai pepohonan, nampaknya kawasan ini adalah merupakan area taman (park), diantaranya terdapat pula yang membuka stand-stand di dalam suatu bangunan yang tidak seberapa luas. Persis di sebelah pasar ini terdapat bangunan besar, yaitu sebuah pasar modern (mall), dan melangkah jalan raya terdapat bangunan pasar tradisional (market) sebagaimana lazimnya kita jumpai di berbagai kawasan, market semacam itu biasanya buka antara hari Kamis atau Jum'at hingga hari Minggu. Walau demikian pasar tradisional terbuka itu selalu dibanjiri pengunjung hingga penuh sesak. Kami pun telah beberapa kali mengunjungi pasar ini.


Di satu saat kami berjumpa dengan seorang ibu, orang Melayu, suami ibu itu masih keturunan orang Boyan, saat itu ia bersama kawannya, yaitu orang middle east --rambutnya yang berwarna pirang terjuntai menyapu punggungnya--, dan ibu tadi memakai jilbab. Ibu tadi itu bilang bahwa ia baru tahu akan adanya pasar tersebut, dan ia bilang pula bahwa sejak itulah dalam tiap bulannya ia selalu hadir di pasar yang menawarkan nuansa kebersahajaan di tengah kemoderenan itu.


Kesan tersendiri merambah dalam sanubariku, sebuah inspirasi, inspirasiku. Pasar tradisional terbuka Kalamunda, kebersahajaan dalam kemoderenan.

Sunday, April 17, 2011

'KINGS PARK' PERTH

DATARAN TINGGI NAN INDAH

Oleh: Aba

Kings Park adalah kawasan dataran tinggi yang merupakan bagian dari kota Perth. Total area 400,6 hektar, yang dalam setiap tahunnya dikunjungi lebih dari enam juta orang (www.bgpa.wa.gov.au/kings-park). Tentu tiada sesiapa yang berkunjung ke Perth yang akan melewatkan kesempatan untuk menikmati udara dan keindahannya. Di kawasan ini kita akan menjumpai monumen, taman-taman bermain yang luas, kafe-kafe, toko souvenir, prasasti-prasasti, hotel, botanic garden, jembatan panjang yang melintasi jurang dalam dengan desain yang begitu indah yang bertengger dengan kokoh namun menorehkan keluesan yang mengagumkan, serta berbagai fasilitas lainnya. Pada musim panas kawasan ini begitu banyak dikunjungi orang, baik siang ataupun malam hari. Dari sini pula kita dapat menikmati pemandangan indah jantung kota Perth, bentangan Sungai Swan (Swan River) dengan airnya nan jernih membiru, alur jalan raya yang melingkar dengan torehan keindahan nan serasi dengan alam sekelilingnya, alur jembatan panjang yang melintang memotong bentangan Swan River yang luas itu. Pada malam hari kita dapat menikmati pemandangan dengan nuansa lain, gemerlap lampu-lampu kota, mobil, kapal-kapal yang lalu lalang di Swan River, bintang-gemintang di langit, apatah lagi manakala ditambah hadirnya sang rembulan.



Di malam memasuki tahun baru tiba kawasan bagian sisi yang menghadap ke jantung kota selalu ramai dengan pengunjung --sebagaimana juga di berbagai park yang lain serta di berbagai pantai--, sambil menunggu tahun baru tiba. Saat jam 00 tengah malam di kejauhan akan Nampak kembang api menyembur dengan berbagai warna dan variasinya disertai dengan bunyi yang berdeguman seakan hendak menelan semua bunyi. --Sebagaimana kita sama paham bahwa di sini malam menjelang tahun baru jalan-jalan raya sunyi, tak ada konvoi atau trek-trekan, jalan raya biasa-biasa saja sebagaimana lazimnya, jadi kendaraan melintas seperti biasanya, hanya berjalan menuju tujuan--. Kala gemercik kembang api telah usai, maka orang-orang pada pulang dengan teratur, dan Kings Park, demikian pula kawasan tempat orang berkumpul itu akan menjadi sunyi hingga datangnya mentari yang beranjak dari ufuk timur.

Thursday, April 14, 2011

ORANG BAWEAN DI OZI (030411)

TIGA PENGHULU ASAL BAWEAN DI AUSTRALIA

Oleh: Aba


Kebijakan multicultural Australia telah berjalan dengan amat baik, demikian pula dalam kebebasan beragama,-bahkan lahan masjid Al-Majid yang sekarang seluas satu ha disediakan oleh pemerintah-. Lembaga/organisasi sentral orang Islam yang bernama AFIC (The Australian Federation of Islamic Council) terbentuk, demikian pula untuk tingkat daerah, lembaga ini bersifat terbuka, tidak mengikat, seperti misalnya muslim Turki lebih memilih bersangga pada negaranya. Lembaga-lembaga keagamaan sebagai ujud ajaran agamanya juga diakui keberadaannya, seperti lembaga kepenghuluan (Marriage Celebration) misalnya. Diantara penghulu ini terdapat putra daerah Bawean. Untuk menjadi penghulu mereka harus menguasai perihal munakahah secara komrehensif, maka sebab itu mereka mesti diuji terlebih dahulu -termasuk dalam perbandingan madzhab- oleh AFIC. Setelah dinyatakan lulus maka AFIC merekomendasi kepada Pemerintah yang kemudian pihak Pemerintah melayangkan surat kepada yang bersangkutan untuk mengikuti interview, bilamana telah pas maka tahapan berikutnya barulah Pemerintah mengeluarkan Nomor Induk sebagai pejabat resmi. Bahkan Pemerintah memberi kewenangan pula kepadanya dalam hal melegalisir foto kopi berbagai dokumen, seperti ijasah, surat nikah, paspor, dan lain sebagainya, juga merekomendasi seseorang yang menghendaki tunangannya agar bisa datang ke Australia (-formulir di Kantor Imigrasi-) misalnya, demikian pula bilamana seseorang hendak membikin paspor, dan beberapa hal lagi kewenangan yang diberikan.


Terhitung sejak kadatangan orang-orang Bawean ke Australia daratan hingga saat ini telah terdapat tiga orang penghulu yang berasal dari pulau Bawean, yaitu:

1. H. Miftah (wafat, September 2006). Beliau wafat saat tengah menyampaikan hotbah nikah di Padbury, dan atas kesepakatan keluarga mempelai ditunjuklah Jamal Siraj, S.Ag sebagai juru nikah.

2. H. Ghufran Yusuf, beliau menjadi penghulu terhitung mulai di Port Hedland sudah lebih dari dua puluh tahun, dan kini telah memasuki masa pensiun.

3. Jamal Siraj, S.Ag, beliau resmi sebagai penghulu terhitung mulai tahun 2008.

Sebagaimana juga di Indonesia, di Australia aqad nikah biasa diselenggarakan di rumah atau masjid.

ORANG BAWEAN DI OZI (020411)

DIANTARA WAJAH-WAJAH USTADZ ASAL BAWEAN DI AUSTRALIA

Oleh: Aba


Sebagaimana telah penulis utarakan dalam tulisan terdahulu bahwa komunitas Bawean di Christmas Island memperoleh lahan perbaurannya dengan komunitas Melayu dan Kokos, hal tersebut berlanjut hingga mereka di daratan Australia. Oleh karena mereka itu beragama Islam maka keberadaan guru-guru yang mengajar agama (ustadz) sangatlah urgen, diantara mereka itulah tampil orang-orang Bawean dalam mengambil peran itu. Semasa di Christmas Island nama H. Mukri (periode sebelum arus masuk Australia daratan), H. Hefni (periode sebelum arus masuk Australia daratan), H. Miftah dan lain-lain telah dikenal secara luas, selanjutnya setelah pindah ke Australia daratan tetap memainkan peran itu dan berlanjut pula pada kehadiran beberapa pendatang baru yang jaga mengikuti jejak mereka, diantara mereka itu dapat kita catat, yaitu (--Penempatan nomor urut berdasar abjad--):

1. Badrun Akhwan, beliau eksis di Masjid Rivervale Kota Perth.

2. H. Ghufran Yusuf, beliau eksis di Masjid Al-Masjid Hepburn setelah sebelumnya di Majid Jami' Port Hedland selema lebih dari dua puluh tahun.

3. Jamal Siraj S.Ag, beliau eksis di Masjid Al-Majid Hepburn dan pernah pula di Masjid Christmas Island.

4. H. Khairuddin Baharuddin, beliau eksis di Al-Hidayah. Semasa Masjid Al-Majid bernama Masjid Al-Hidayah (sedari awal berdirinya hingga tahun 2007) beliau menjabat sebagai Presiden Masjid.


Mereka itu adalah aktifis, bergerak, berjuang, bersinerji, seirama dengan dinamika pergerakan, untuk Islam di Australia. Tentu tidak banyak yang mampu berbuat seperti mereka, namun orang Bawean yang dari pulau yang kerap kali disebut terpencil itu telah menorehkan sinar di tengah arus modernitas di antara etnis dan bangsa-bangsa di dunia.

ORANG BAWEAN DI OZI (010411)

KATEGORISASI EKSISTENSI ORANG/KETURUNAN ORANG BAWEAN DI AUSTRALIA DARATAN

Oleh: Aba


Setiap individu dan masyarakat berkembang sesuai jamannya, itulah kaedah hidup. Demikian pula halnya dengan eksistensi orang Bawean di Australia daratan. Dalam pengamatan penulis eksistensi orang/keturunan orang Bawean di Australia daratan dapat dibagi dalam empat kategori, yaitu:

* kategori generasi pertama atau perintis, adalah mereka yang merambah jalan masuk ke Australia daratan setelah menempuh jalan panjang melalui Singapore, lalu ke Christmas Island dan baru kemudian merambah jalan masuk ke Australia daratan.

* Kategori ke-dua adalah merupakan generasi peralihan, yaitu mereka yang lahir di Christmas Island atau Singapore atau bahkan sebagian kecil lahir di Bawean, namun semasa masih kecil telah ikut bersama orang tuanya (generasi pertama) bermukim di Singapore dan/atau Christmas Island, mereka itu masih berada di lingkungan komunitas orang tua mereka bersama komunitas Melayu serta Kokos dalam area yang disebut kampung sebagai komunitas muslim yang amat dominan dalam mempola tata nilai mereka, yang kemudian settle di Australia daratan.

* Kategori berikutnya adalah generasi ke-tiga yang merupakan suatu ujud generasi baru, mereka itu lahir di Australia daratan , berbaur dalam kehidupan masyarakat barat, hari-hari bergumul dengan eksistensi budaya dominan Australia, interaksi mereka lebih bersifat luas dan terbuka, antar etnis-antar budaya, dan mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa interaksi sehari-hari, atau setidaknya jauh lebih paham menggunakan bahasa Inggris kendatipun dengan sesama keturunan orang Bawean --umumnya mereka mengerti bahasa Melayu, namun tak mudah untuk mengkomunikasikannya--. Dalam hal yang penulis sebut terakhir ini tentu berbeda dengan generasi pertama/perintis yang dengan sasama orang Bawean menggunakan bahasa Bawean, dan generasi kedua/peralihan yang menggunakan bahasa Melayu, pada generasi kedua/peralihan ini sudah masuk pula orientasi pembauran/kemajemukan walau tidak seluas dalam skala generasi baru.

* Kategori selanjutnya adalah generasi pendatang baru, mereka baru datang ke Australia daratan setelah generasi pendahulu settle di Australia daratan, dan kehadiran generasi pendatang baru tersebut bagian terbesar terkait dengan keberadaan generasi pendahulu. Generasi pendatang baru itu baik yang langsung dari Bawean, maupun yang sebelumnya telah settle di Tanjung Pinang, Singapore ataupun Jawa, dengan bahasa bawaan mereka yang berfariasi sesuai dengan dari daerah mana mereka bermukim, dan orientasi pikirnyapun sudah berfariasi pula.

Saturday, April 2, 2011

PERHELATAN

Oleh: Aba

Suatu perhelatan besar baru saja usai dilakukan, suatu perhelatan rutin tahunan di kampungku, ratusan juta rupiah uang terhamburkan, nuraniku berkata, paradoks dengan apa yang diharapkan untuk membina masyarakat mandiri dan berkesederajatan. 'Wartawan' nuraniku berhasil mewawancarai salah seorang 'duta nuraniku':

Wartawan : Assalamualaikum bapak…

'Sang Duta' : Wa alaikum salam…, o… pak wartawan rupanya…

Wartawan : Wah…, acaranya luar biasa bapak...

'Sang Duta' : Ya…, sungguh luar biasa…

Wartawan : Bagaimana pandangan bapak…?

'Sang Duta' : Bukan main, sungguh luar biasa, ya…, luar biasa, para pemimpin kita telah berhasil dengan menakjubkan, benar-benar telah berhasil dalam membina masyrakat makin berpola hidup konsumtif, berhasil dalam memotifasi tumbuh suburnya sifat riya', berhasil dalam menggelar pertunjukan kesenjangan sosial yang menganga lebar, berhasil dalam memajangkan keangkuhan strata (kelas) sosial atas terhadap yang bawah, berhasil dalam menafsir kemulyaan figur Rasul sebagai obyek perayaan adat atas nama agama sehingga tiada alasan bagi mereka yang telah terbius untuk bisa surut dengan advertensi pahala yang merupakan daya tarik yang luar biasa.

Saturday, March 26, 2011

MEMANFATKAN KONDISI ALAM

Oleh: Aba



Manusia selalu tiada kehabisan akal. Segala kondisi selalu dapat dimanfaatkan, termasuk segala macam tantangan alam. Kita perhatikan misalnya bagaimana masyarakat Western Australia memanfaatkan kondisi musim. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa di Western Australia terdapat empat musim, yaitu musim dingin (winter), musim bunga (spring), musim panas (summer) dan musin gugur (autumn). Di antara ke-empat musim itu yang paling extrim adalah musim panas, sebab pada musim ini suhu bisa mencapai 47*C. Adapun pada musim dingin suhu terendah hanya mencapai 2*C atau 3*C di bawah titik nol, jadi tidak sampai extrim. Walau di musim panas suhu begitu signifikan, ternyata mereka mampu memanfaatkannya untuk dinikmati, mereka memanfaatkan pantai yang

menganga luas, padang-padang dengan hamparan rumput nan hijau serta pepohonannya nan rindang, maupun tempat-tempat pemandian. Western Australia kaya dengan pantai-pantai nan indah dengan hempasan debur ombak samudra Indonesia (Indian Ocean) yang selalu ramai dikunjungi wisatawan sepanjang musim panas, demikian pula kaya dengan tempat-tempat pemandian dan hamparan padang taman yang tersebar luas di berbagai-bagai kawasan. Dalam pada itu pula kita bisa sambil bakar-bakar daging (seperti daging sapi, kambing, ayam ataupun juga ikan yang disini begitu kaya dengan berbagai jenis ikan, sausage/sosis, dan lain-lain) yang lazim dilakukan masyarakatnya, yang mereka sebut barbeque (BBQ).

Setiap tantangan ada jawabnya. Dengan demikian sepanjang musim telah menawarkan daya tariknya tersendiri bagi wisatawan, tentu di samping oyek wisata untuk segala musim.


Mungkinkah kita mampu memanfaatkan musim penghujan yang merupakan musim paling ektrim di Negara kita untuk aktifitas wisata?.








Catatan Penulis: Disini penulis tiada bermaksud memberi penilaian tentang 'mandi-mandi' dipantai atau pemandian umum, untuk itu terpulanglah pada kita semua, dalam hal ini penulis hanya bermaksud memaparkan realita bagaimana kiat mereka dalam menghadapi suatu tantangan alam utuk disikapi dan diolah secara positif dan produktif.

Saturday, February 12, 2011

BELAJAR ISLAM DI AUSTRALIA

Friday, July 9, 2010
(http://ontologyislam.blogspot.com/2010/07/luthfi-assyaukanie-ma-asyiknya-belajar.html)

Luthfi Assyaukanie MA: Asyiknya Belajar Islam di Barat
islamlib.com, 08/03/2004
Oleh Redaksi

Dengan berbagai sarana dan fasilitas yang mencukupi, studi Islam di Barat jelas menggiurkan dan menjadi pilihan yang masuk akal bagi para generasi Islam dari kalangan akademis, termasuk dari Indonesia. Itu yang dirasakan Luthfi Assyaukanie MA, pengajar filsafat di Universitas Paramadina Mulya Jakarta, ketika belajar di sana. Berikut secuil kisahnya.

Maraknya studi Islam yang diselenggarakan oleh dunia Barat, pada satu sisi merupakan bagian dari pragmatisme dunia akademis Barat sendiri. Kebutuhan objektifnya adalah untuk mengenal dunia Islam secara lebih dekat. Karena itu, pelbagai perguruan tinggi dunia Barat membuka bidang studi Islam yang biasanya termasuk dalam lingkup area studies (studi kawasan). Berbagai sarana dan fasilitas yang mencukupi, studi Islam di Barat jelas menggiurkan dan menjadi pilihan yang masuk akal bagi para generasi Islam dari kalangan akademis, termasuk dari Indonesia. Banyak nama yang bisa kita munculkan di sini misalnya Dr. Nurcholish Madjid, Dr. Syafii Maarif, Dr. Amien Rais, Dr. Dien Syamsuddin dan banyak lagi. Kekhawatiran studi Islam di Barat akan menggerogoti nilai-nilai Islam, pada akhirnya terbantahkan oleh kenyataan-kenyataan objektif itu.

Hal tersebut juga dialami oleh Luthfi Assyaukanie MA, pengajar filsafat di Universitas Paramadina Mulya Jakarta. Untuk berbagi pengalamannya, Ulil Abshar-Abdalla dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) mewawancarai kandidat doktor di Melbourne University, Australia, yang saat ini sedang jeda kuliah di Jakarta, sembari melakukan riset untuk melengkapi disertasi doktornya tentang pemikiran Islam kontemporer di Indonesia, Kamis (4/3/ 2004). Berikut petikannya:

ULIL ABSHAR-ABDALLA: Bung Luthfi, Anda pernah kuliah di Timur Tengah. Bisa Anda ceritakan iklim intelektual di sana?

LUTHFI ASSYAUKANIE: Saya belajar di Timur Tengah, tepatnya di Yordania pada akhir tahun 80-an. Tepatnya, dari tahun 1987-1988, saya mulai kuliah mengambil jurusan agama, bukan filsafat. Tepatnya saya kuliah di jurusan Syari’ah, walau kemudian saya mengikuti manner, far’iy atau cabangnya. Saya mengambil filsafat di Fakultas Sastra.
Saya kira, pilihan kuliah ke Yordania ketika itu, selain karena faktor kebetulan, juga karena lingkungan politik dan keagamaan di Yordania saat itu termasuk cukup liberal dibandingkan Negara-negara Teluk, atau bahkan pada tingkat tertentu, Mesir sendiri. Di Mesir pada saat itu, kelompok Ikhwanul Muslimin --misalnya-- dilarang pemerintah untuk melakukan aktivitas politik. Sementara di Yordania, Ikhwanul Muslimin diberi kebebasan yang cukup, dan sempat memenangkan pemilu yang diadakan pertama kali, tahun 1989. Makanya, secara umum saya kira politik keagamaan di Yordania saat itu bisa dikatakan lebih bebas dari negara-negara tetangganya.

ULIL: Bagaimana perkembangan studi filsafat di dunia Islam, dalam pandangan Anda, sekurang-kurangnya dilihat dari jurusan Anda di Timur-Tengah?

LUTHFI: Sebagaimana dikatakan banyak orang, di dunia Sunni, filsafat atau dunia pemikiran secara umum, memang mengalami kemunduran atau kemandegan luar biasa. Orang selalu membandingkan antara dunia Sunni dan dunia Syi’ah dalam perbincangan soal ini. Di dalam tradisi pemikiran Sunni, puncak pemikiran filsafat berhenti pada sosok Ibnu Rusyd. Tapi dalam dunia Syi’ah masih terus berlanjut. Meski demikian, saya juga mengritik dunia pemikiran Syi’ah, karena cenderung pada pemikiran yang bersifat eksoteris. Maksudnya, pemikiran-pemikiran yang bersifat enlightment atau mencerahkan termasuk hilang juga.
ULIL: Sekarang Anda belajar Islam di Australia. Bisakah Anda membandingkan antara lingkungan intelektual di Yordania dengan Australia?

LUTHFI: Secara umum, kehidupan intelektual antara keduanya tidak terlalu banyak berbeda. Mungkin yang berbeda justru pada fasilitas, seperti perpustakaan dan exposure dari orang-orang di dalam dunia akademik. Maksud saya, di lingkungan akademis yang standar di Dunia Barat, saya kira ada iklim yang cukup bebas, dan hampir tidak ada tekanan dalam aktivitas pemikiran karena ideologi atau keyakinan tertentu.

ULIL: Sebagai seorang muslim, dimana kemusliman Anda lebih bisa terekspresikan secara leluasa, di Australia atau di Yordania?

LUTHFI: Itu perbandingan dari ruang dan nuansa yang betul-betul berbeda; yang satu negara yang mayoritas berpenduduk muslim, yang lain mayoritas nonmuslim. Dibilang perbandingan antara negara sekuler dengan negara bukan sekular juga tidak bisa, karena Yordania dalam tingkat tertentu sebetulnya bisa disebut negara sekular, dalam pengertian bahwa agama bukan perkara publik yang terlalu dipentingkan untuk diurus negara. Dalam konteks ini, saya kira, Yordania bukan negara agama, tapi memang penduduknya kebanyakan muslim.

ULIL: Menurut Anda, dari sudut penilaian Islam, apakah Australia bisa dikatakan sebagai negeri yang memenuhi harapan Islam?
LUTHFI: Saya jadi teringat kata-kata Muhammad Abduh, seorang tokoh reformis Mesir yang kemudian pernah berkeliling Eropa. Sebuah statemen yang sangat terkenal darinya adalah ungkapan bahwa dia melihat Islam di Eropa, Inggris dan Perancis khususnya, tapi tidak melihat kaum muslim di sana. Sebaliknya, dia melihat kaum muslim di Mesir (negerinya) tapi tidak melihat Islam di sana.

ULIL: Hal serupa Anda saksikan di Australia?

LUTHFI: Ya, pengalaman serupa saya temukan. Artinya, begitu banyak ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang selama ini saya dapatkan dalam Islam, justru saya temukan aplikasinya di Australia. Misalnya dalam hal kebersihan, ketertiban, keamanan, dan lain-lain. Nilai-nilai tersebut kan semuanya merupakan ajaran yang sejak kecil selalu dicekoki kepada kita. Tapi sayangnya, justru itu tidak kita temukan di banyak negara yang mengklaim sebagai negara muslim mayoritas.

ULIL: Bung Luthfi, orang selalu mencibir bahkan sinis kalau kita belajar Islam di negeri non-Islam. Nah, apa sih alasan Anda belajar Islam di sana?

LUTHFI: Saya kira yang paling utama, yang orang jarang sadari adalah kenyataan bahwa di negara-negara Barat, termasuk Australia, fasilitas pendidikannya luar biasa, sehingga buku-buku keislaman yang kita perolah mungkin jauh lebih banyak ketimbang yang kita temukan di Mekkah dan Madinah sekalipun. Di sana, buku-buku berbahasa Arab luar biasa banyaknya. Koleksi buku-buku klasik Islam cukup banyak. Koleksi buku-buku hadis, misalnya, dari Bukhari-Muslim, Kutubus Sittah, Mustadrak, dan lain-lain, semua bisa didapat dengan mudah, dan dengan fasilitas yang luar biasa memudahkan.

ULIL: Dan banyak juga orang bertanya: kenapa sih orang Barat menyelenggarakan studi Islam di pelbagai perguruan tinggi mereka?

LUTHFI: Saya kira itu bagian dari pragmatisme mereka, yakni tuntutan pasar secara umum. Pada tahun 80-an, di Amerika banyak sekali muncul studi tentang Midlle Eastern (Timur Tengah) atau Near Eastern Studies (Studi Timur Dekat), yang sebetulnya merupakan upaya untuk studi dunia Arab secara keseluruhan. Studi tentang Islam masuk ke dalam departemen ini. Dan mereka mendirikan departemen semacam ini karena ada tuntutan yang mendesak pada saat itu, misalnya karena pesatnya industri, dan booming minyak di Tanah Arab. Oleh kenyataan itu, tentu mereka harus punya penguasaan terhadap kondisi sosial-politik-budaya wilayah tersebut. Dan munculnya departemen ini sama seperti munculnya departemen lain di dalam area studies.

ULIL: Banyak orang mengatakan, semua itu dilakukan Barat untuk menghancurkan Islam sendiri. Menurut Anda, apakah lingkungan akademis di negeri Barat memang memusuhi Islam atau bagaimana?

LUTHFI: Saya kira orang-orang Barat itu pragmatis saja. Dan dunia akademis Barat, secara umum adalah dunia pragmatis. Artinya, mereka membuka bidang studi Islam yang biasa disebut area studies, oleh kebutuhan yang objektif secara akademis. Makanya, kalau kita menemukan teori baru dalam studi Islam, mereka tidak akan pernah campur tangan, sepanjang argumen kita kuat.
Saya kira, di dunia Islam, penemuan-penemuan akademis seperti itu, justru terkadang bermasalah. Misalnya kalau saya bandingkan dengan di Yordania sendiri. Yordania itu kan negara yang relatif lebih bebas dibandingkan Arab Saudi, misalnya. Tapi jika kita mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan mainstream keyakinan di sana, tetap saja ada tekanan dan tidak akan dibolehkan. Ketika masih di Yordania, saya punya teman yang sangat concern akan pemikiran Hizbut Tahrir yang radikal. Tapi kemudian yang menekan dia bukan datang dari kelompok sekular di sana, tapi justru kelompok Islam yang tidak suka akan Hizbut Tahrir. Nah logikanya, kalau pemikiran Islam saja tidak disukai, apalagi pemikiran yang lain.

ULIL: Jadi, motif studi Islam di Barat itu, sebetulnya akademis, politis, atau apa?

LUTHFI: Sejauh yang saya amati, tidak ada apa yang perlu dikhawatirkan kaum muslim selama ini. Misalnya kekhawatiran itu dilakukan sebagai bentuk konspirasi Barat terhadap Islam.

ULIL: Tapi sejumlah sarjana Barat yang sinis terhadap Islam itu kan betul-betul fakta!

LUTHFI: Ya, sama saja dengan fakta sarjana Islam yang sinis terhadap Barat. Dan itu banyak sekali, melebihi banyaknya sarjana Barat yang sinis terhadap Islam. Kalau berbicara pada tataran individu, tentu fenomena itu bisa dikatakan fenomena yang alamiah belaka. Tapi kalau kita berbicara pada tataran umum dan pada level institusi, hal itu sesungguhnya tidak ada. Saya tidak percaya akan hal itu.

ULIL: Sebagai mahasiswa muslim yang belajar Islam di Australia, apakah Anda tidak merasa tertekan?

LUTHFI: Jelas tidak. Sekarang saja yang memegang Departemen Islamic Studies di sana (Melbourne University) adalah seorang muslim. Lulusan Madinah, bahkan. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari studi Islam di Barat. Buat mereka, kalau seseorang itu qualified dan bisa memenuhi syarat-syarat akademis, mereka akan dengan mudah meraih posisi strategis.

ULIL: Terakhir, apa saran Anda untuk para pelajar Islam di Tanah Air, berkaitan dengan dunia Barat?

LUTHFI: Saya ingin menegaskan, banyak sekali yang bisa dipelajari dari dunia Barat. Dan interaksi kita di Dunia Islam dengan Dunia Barat bukanlah hal yang baru. Pada abad ke-2 dan ke-3 Hijriah, banyak sekali intelektual muslim yang berkaca kepada Barat. Mereka mengambil sisi baik Barat, kemudian melakukan reproduksi intelektual yang luar biasa menakjubkan. Mereka menulis buku, bahkan menciptakan teknologi, ilmu kedokteran, dan lain sebagainya. Itu sebagiannya mereka ambil dari Barat. Nah kalau kita punya pengalaman yang baik dengan Barat, kenapa kita tidak tiru itu lagi? []

Retrieved from: http://islamlib.com/id/artikel/asyiknya-belajar-islam-di-barat/ (August 9, 2010)

MENGGAYUH MEMAHAMI EKSISTENSI TUHAN

Oleh: A. Fuad Usfa Eksistensi Tuhan Berbicara tentang Tuhan berarti berbicara suatu yang gaib, abstrak. Tidak bisa ditangkap dengan penca in...