Tuesday, August 3, 2010

NUANSA FLEXIBILITAS

WAKTU SHALAT DAN MAKAN
Oleh: Aba

Manakala hendak masuk waktu shalat, atau telah masuk waktu shalat, sedang makanan telah siap dihidangkan di hadapan kita, entah acara apalah…, entah dalam bentuk prasmanan, lesehan atau apalah…,sering muncul pertanyaan ‘makan dulu ataukah shalat dulu…?!’. Kawan-kawan di Indonesia (baca: di Malang) biasanya dengan nada bercanda, pertanyaan tersebut selalu dijawab dengan pertanyaan juga, yaitu ‘mana yang mesti kita pilih, makan ingat shalat ataukah shalat ingat makan…?!’, dalam hal ini yang bermain adalah logika. Bukan hanya di Malang saja pertanyaan yang sama muncul, yang aku tahu diberbagai kawasan, termasuk juga di Australia. Biasanya pertanyaan tersebut muncul oleh sebab waktu yang tanggung-tanggung. Sebetulnya di samping jawaban lewat logika seperti tersebut di atas, manakala kita mau membuka kitab fiqh maka terdapat nash yang bisa dijadikan rujukan normatif, yaitu sabda Rasulullah SAW, bahwa la shalata bi hadhratith tha’aam’, terjemahnya ‘tidak ada shalat di hadapan makanan’, lengkapnya (terjemahnya) sebagai berikut: ‘Kata Aisyah RA, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, tak ada shalat di hadapan makanan dan tak ada shalat di kala sedang dipengaruhi oleh desakan buang air besar atau air kecil’. (Hadist Riwayat Muslim dari Aisyah RA, Bulughul Maram:49, dalam Ash Shiddieqy:170). Juga Rasulullah SAW telah bersabda (terjemahnya) sebagai berikut: ‘Apabila telah disajikan makan malam, maka makanlah dulu sebelum melaksanakan shalat maghrib’. (Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Aisyah RA, Subulussalam I: 202, dalam Ash Shiddieqy:170).
Berkenaan dengan itu Ash Shiddieqy mengutarakan, bahwa diantara para ulama ada yang mengatakan ‘makan dulu kalau sudah lapar walaupun ke luar waktu’, dengan dasar, bahwa khusu’ itu ruhhusshalah. (ash Shiddieqy:170).

Referensi:
Ash Shiddieqy, TM. Hashbi, Prof. Dr., 1986, Pedoman Shalat, Bulan-Bintang, Jakarta, cet. ke-15

Friday, July 30, 2010

BERITA DUKA

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Telah berpulang ke Rahmatullah Bapak H. Muhammad Isa bin Sulaiman, pada hari Rabu, bertepatan dengan tanggal 28 Juli 2010, waktu subuh, dalam usia 91 tahun.
Semasa hidupnya beliau adalah salah seorang tokoh.
‘Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah dan mengampuni segala salah hilaf beliau serta memberi tempat yang layak di sisi-Nya; amin, amin, amin ya rabbal ‘alamin.

USTADZ H. HAIRUDDIN

USTADZ H. HAIRUDDIN
(SOSOK SEORANG USTADZ DI WESTERN AUSTRALIA)
Oleh: Aba

Ustadz H. Hairuddin, penempilannya selalu ceria, sederhana dalam sikapnya, menimba ilmu bermula dari tanah kelahiran, yaitu pulau Bawean, tsanawiyah dan Aliyahnya ditempuh di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Selepas itu melanjutkan studinya ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Internasional di Universitas Darul Ulum Jombang. Pada tahun 1988 berkelana ke Negara Benua di selatan tanah Jawa, yaitu Australia, namun pada tahun itu hanya tiga bulan saja, dan baru sejak tahun 1990 beliau berdomisili di Australia hingga sekarang. Pada tahun 1990-1992 beliau belum bekerja mapan. Mula-mula hanya mengajar anak-anak satu kali dalam satu minggu, dari situlah darah kesantriannya mulai menampak tertularkan di masyarakat Islam Australia. Tatkala masjid besar di kawasan Hipburn (Masjid Al-Hidayah) didirikan beliau menduduki posisi sebagai Presiden, yang pada posisi itu beliau emban selama lima tahun.

Bilamana datuk beliau yang hingga kini namanya terukir indah sebagai nama Pondok Pesantren besar yang berwibawa, yaitu KH. Hasan Jufri menebar ilmu agama Islam di pulau Bawean, beliau sebagai cucunya telah menebar ilmu agama Islam di bumi Australia.

Beliau mengajar agama pada orang-orang Melayu dan Kokos, juga pada anak-anak beberapa keluarga Pakistan, di samping mengajar pada anak-anak Melayu, Kokos dan Boyan. Beliau juga mengajar agama pada anak-anak di Al-Hidayah, di samping pula mengajar agama pada anak-anak di masjid Rivervale. Beliau selalu aktif pula dalam berbagai kegiatan keagamaan, ceramah-ceramah, hotbah-hotbah dan lain-lain, termasuk dalam hal peristiwa-peristiwa kelahiran, perkawinan dan kematian.

Cucu kiyai besar di pulau Bawean telah turut mengukir kebasaran Islam di Australia.

Thursday, July 22, 2010

PENJAJAHAN

Oleh: Aba
Penjajahan yang akrab dikenalkan pada kita adalah merupakan konsep ideologi dan politik, merasuk dalam jiwa, mengalir dalam darah, senjang dengan ranah rasio, oleh sebab itu konsep ini ‘kan dapat pula dengan mudah dan leluasa menipu kita.

PERTH DAN MUSIM

Oleh: Aba
Perth adalah salahsatu kota di Australia yang menawarkan kedamaian, wilayahnya dlingkari sungai yang airnya jernih membiru nan menambah keindahan kota ini. Di seputar Perth terdapat berbagai perkebunan seperti berbagai jenis apel, berbagai jenis anggur, berbagai jenis jeruk, dan lain-lain, serta berbagai jenis sayur-mayur seperti wortle, kubis, kentang, sawi, dan lain-lain. Terdapat berbagai peternakan seperti sapi, kambing, domba, dan lain-lain. Bulu domba yang sudah menebal dicukur dan dari itulah kain wool dibuat yang dengannya dapat menghangatkan badan, khususnya di kala musim dingin. Area perkebunan dan peternakan di sini amat luas. Terdapat pula berbagai industri, pusat-pusat perbelanjaan, dan lain-lain. Bagi orang yang punya hobbi memancing, di kawasan ini merupak
an ‘sorga’nya. Pengendalian pertumbuhan ikan betul-betul dijaga dengan baik, sehingga kelestarian ikan amatlah terjamin. Mungkin banyak orang luar yang tidak menyangka bahwa ikan di sini melimpah-ruah dengan berbagai jenisnya seperti ikan kakap, tuna, tenggiri, dan lain-lain. Ikan-ikan kecil dan besar terdapat di sekitar pantai, apa lagi bila naik bot ke tengah.
Salah satu budaya yang telah terbentuk di sini adalah selalu memperhatikan cuaca di setiap harinya. Masyarakat sangat mengapresiasi terhadap kondisi cuaca. Sebagaimana Australia pada umumnya di kawasan ini terdapatempat musim, yaitu musim panas antara bulan Desember-Pebruari, musim gugur antara bulan Maret-Mei, musim dingin antara bulan Juni-Agustus, serta musim semi antara bulan September-November. Kala musim panas suhu udara bisa mencaapai 47 derajat C, dengan kondisi udara kering, tentu amatlah panas, maka pada musim ini tempat-tempat pemandian, pantai serta taman-taman yang teramat banyak di sini jadi tempat tujuan orang. Selepas musim panas ini datanglah musim gugur, di musim ini untuk jenis tetumbuhan tertentu daunnya pada berguguran hingga tinggal dahan, cabang dan rantingnya saja sehingga bagaikan pohon-pohon mati, suhu udara di musim ini amat nyaman. Selepas musim gugur ini datanglah musim dingin, suhu udara bisa mencapai titik rendah hingga dua derajat di bawah titik nol derajat C, oleh sebab itu di kawasan ini tidak sampai bersalju. Lalu selepas musim dingin ini datanglah musim semi, suhu udara amatlah nyaman, saat ini bunga-bunga pada bermekaran, alam sekeliling seakan menunjukkan keceriaan, suasana betul-betul indah dan nyaman bagai hendak menyambut persandingan sang bidadari.

NUANSA 'CONTROVERSIAL'

ALI HARB (LIBANON)
Cuplikan Oleh: Aba

Pernahkah anda mendengar kata sepakat?, tentu jawabnya iya, itu adalah salah satu kata yang akrab dengan kehidupan kita sehari-hari; pernahkah kata itu terwujud dalam realita kehidupan ummat manusia?, jawabnya tentu tidak, sebab dari waktu ke waktu kehidupan manusia selalu diliputi perbedaan. Demikian pula dalam kancah pemikiran keagamaan. Dalam konteks fiqh kita mengenal pula istilah ijma' sebagai bermakna kesepakatan, namun istilah ijma’ itu bukan bermakna kesemua pandangan isu keagamaannya sepakat, dan untuk itu kita telah sepakat; maka bilamana ijma' dalam konteks fiqh saja sulit diperoleh, apatah lagi dalam kontek yang lebih luas, tentu kita akan bisa memahami realitas adanya ketidak sepakatan itu. Bahkan ketidak sepakatan itu bisa terjadi dalam pengertian yang amat radikal. Dalam nuansa kontroversi ini aku cuplikkan tulisan M. Kholidul Adib Ach, dalam islamlib.com bertanggal 24/08/2003, perihal pandangan sosok intelektual muslim Libanon yang bernama Ali Harb.Ali Harb merupakan sosok intelektual muslim kontemporer yang kontroversial, radikal dan transformatif, ia adalah salah seorang dosen filsafat di Universitas Bairut, Libanon. Pandangannya yang begitu kontroversi dan radikal itu nampak dalam konsep yang diusungnya, yaitu ‘kritik teks’ yang bermuara pada ‘kritik kebenaran’. Diantara dasar pemikirannya ia berpandangan bahwa teks adalah wujud yang independent baik dari unsur penyusunannya maupun realitas-realitas luar supaya bisa dieksiskan di tengah-tengah realitas yang ada. Ia berpandangan pula bahwa ‘perkataan’ adalah tipu daya dan teks adalah bentuk penipuan yang selalu memberi batasan di antara dimensi yang berbeda. Semua teks adalah sama, tidak ada kecuali. Berkenaan dengan ‘kritik kebenaran’ diantaranya ia berpandangan bahwa kebenaran sering menjadi suatu bentuk pengklaiman dari berbagai pihak secara subyektif dan menjadi konsep tunggal dan sederhana atau teologis metafisik yang amat jauh dari ranah penelitian dan pemikiran. Kebenaran itu sendiri merupakan wacana irrasional yang ‘diam’. Ali Harb berpandangan bahwa kebenaran itu relatif adanya.

Monday, July 19, 2010

BOYAN (BAGIAN I)

Oleh: Aba
1. Pendahuluan
Bilaa dikaitkan dengan penamaan Bawean, istilah Boyan tidak dijumpai bila dan dari siapa asal-muasalnya (-bila untuk selain yang terkait dengan penamaan Bawean akan penulis utarakan pada tulisan berikutnya-). Sama juga halnya dengan penggunaan nama Bawean, yang nyata istilah Boyan telah digunakan secara luas di beberapa kawasan perantauan orang Bawean, khususnya di kawasan semenanjung Melayu.

2. Asal Muasal Istilah
Jika kita bertanya pada orang di Surabaya dengan pertanyaan, ‘apakah anda kenal nama ‘Bfebien’?, aku kira kecenderungan mereka akan menjawab ‘tidak’, walau mereka mempunyai teman atau tetangga dekat orang Bawean sekalipun. Berbeda bila ditanya, ‘apakah anda kenal nama ‘Bawean’?, maka mereka akan menjawab iya…, saya punya teman dan tetangga orang Bawean. Mengapa demikian?, tentu oleh sebab istilah Bawean itulah yang luas dikenal dan digunakan dalam masyarakat Surabaya.

Berkenaan dengan istilah Bawean, pertanyaan sama halnya dengan tatkala kita mempertanyakan istilah Boyan, yaitu dari mana asal muasal istilah Bawean, sebab bila istilah Bawean berasal dari orang Bawean, tentu akan mustahil, sebab dalam kata orang Bawean sejatinya tidak mengenal kata ‘ba’, taruhlah sebagai contoh, ‘aba’ menjadi ‘abe’, ‘batuk’ menjadi ‘betok’, ‘babi’ menjadi ‘bebi’, dan seterusnya. Kata sebagian orang Bawean berasal dari kata dalam bahasa Sangsakerta, yaitu ‘ba’ ‘we’ ‘an’. Pertanyaan kita benarkah demikian/, sudahkah kita mengeceknya dalam kamus bahasa dengan semestinya, benarkah kata dalam bahasa Sangsakerta terdapat kata dua huruf-dua huruf seperti itu?, tentu ada tapi sangat sedikit, seperti misalnya kata 'su' yang bermakna baik. Matahari dalam bahasa Sangsekerta adalah 'surya', hal ini sama dengan yang digunakan dalam bahasa Gujarat, Bengali, Thailand, dan juga umum dikenal dalam masyarakat kita, terutama Jawa. Dalam bahasa Sangsekerta matahari juga disebut 'radithya', sedangkan (Dewa) matahari adalah 'aditya'. Adapun sinar dalaam bahasa Sangsekerta adalah 'kara', dan cahaya dalam bahasa Sangsekerta adalah 'chaya', serta menyinari dalam bahasa Sangsekerta adaalah 'gantari'. Dugaan penulis munculnya peng-artian ba-we-an sebagai sinar-matahari-ada tersebut bermula dari senda gurau yang yang kemudian menyebar tanpa mampu dilacak keebenarannya. Sebagai orang Bawean penulis menyadari, oleh sebab budaya dongeng begitu kuatnya di masyakat kita, sehingga sulit membedakan antara dongeng dan realita, termasuk sejarah. 


3. Makna Dalam Kata
Selama ini kita telah teramat banyak menggunakan kata atau istilah yang kita sendiri tidak paham akan maknanya, persoalannya apakah kita harus memahami makna setiap kata yang kita gunakan?, tentu jawabnya ‘tidak’, sebab tidak mungkin itu bisa terjadi. Coba kita cermati, terdapat kata yang berbeda samasekali dengan kata aslinya, seperti ‘telur mata sapi’, tidak benar itu adalah telurnya mata sapi, atau mungkin orang akan menjawab, sebab itu mirip dengan mata sapi, pertanyaannya adalah, mata sapi yang manakah yang mirip dengannya?!; terdapat pula kata atau istilah yang berasal dari satu bahasa yang penyebutannya berbada namun mempunyai makna yang sama, seperti ‘ridha’ dalam kata Arab menjadi ‘riza’ dalam kata Parsia, demikian pula ‘musyawarah’ dalam kata Arab menjadi ‘musyawarat’ dalam kata Parsia. Bahkan terdapat juga kata yang mempunyai makna yang bertentangan secara hakiki dengan segala konsekwensinya, misalnya ‘obat nyamuk’, semestinya racun nyamuk, sebab bila nyamuk diobati konsekwensinya nyamuk yang sakit bisa menjadi sehat; demikian pula istilah ‘shalat’, menjadi ‘sembahyang’, bagaimana ini bisa?, sebab shalat adalah menyembah Allah dalam terminologi Islam, sedang sembahyang adalah menyembah ‘Hiyang’ atau ‘Leluhur’ dalam terminologi pra Hindu-Budha di Nusantara, padahal bila orang Islam menyembah 'Leluhur' (roh) maka bermakna mereka itu syirik, dan syirik konsekwensinya adalah dosa besar yang tak terampunkan. Terdapat pula kata yg dalam bahasa suatu daerah bermakna bagus, tapi di daerah yang lain punya makna yg sangat jelek. Belum lagi kita berbicara tentang persilangan budaya. Bahasa adalah sesuatu yang lazim, lazim berlaku dalam komunitas tertentu, maka itu muncul bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Bali, bahasa Jawa, dan seterusnya. Jadi apa yang lazim dalam komunitas Arab, apa yang lazim dalam komunitas Inggris, apa yang lazim dalam komunitas Jawa, dan seterusnya. Bila tidak, maka bahasa bisa menyebabkan perang, sebab taruhlah misalnya orang Arab mengoreksi penggunaan bahasa Indonesia atau Jawa, dan seterusnya yang berasal dari kata Arab, maka semua penggunaan kata Arab di Indonesia, Jawa, dan seterusnya itu akan menjadi salah, dan akan menjadi benar manakala lidah orang Indonesia, dan seterusnya itu diganti dengan lidah orang Arab di negeri Arab sana, tentu itu tidak mungkin terjadi, demikian pula penggunaan kata dari bahasa Inggris, Belanda dan seterusnya, belum lagi dalam penulisan dan lain-lain. Kita tentu sama maklum pula, bahwa naama negara saja bisa berubah dalam penyebutan di negaraa lain, katakan misalnya Netherlands disebut juga Dutch, bangsa kita menyebut Belanda, lalu dari mana kata belanda?, dugaan penulis oleh sebab diantara mereka banyak yang berambut blonde (pirang), New Zealand bangsa kita menyebutnya Slandia Baru, Greek disebutnya Yunani, USA menjadi Amirika serikat, dan sebagainya, belum lagi panggilaan-panggilan --termasuk panggilan terhadap suatu negara-- berdaasar kebiasaan orang barat, seperti Australia Ausi, atau OZ misalnya, Malaysia menjadi Malay, dan sebagainya.

4. Pergaulan
Manusia tidak mungkin hidup secara sendiri, ia akan bergaul (berinteraksi). Semasa baru lahir bergaul dengan ibunya, kemudian dengan pihak lain, utamanya dengan anggota keluarga dekatnya, dari pergaulan itulah ia meniru banyak hal, termasuk dalam berbahasa, lidahnyapun terbentuk sebagaimana orang-orang disekitarnya, selanjutnya melebar, tergantung tingkat mobilitasnya, makin tinggi tingkat mobilitasnya akan makin lebih luas pergaulannya. Orang mengenal kita karena kita bergaul, bila tidak, maka tetanggapun tidak akan mengenal kita, jangankan orang jauh. Orang yang mengenal kita akan menyebut nama kita, sebab tidak mungkin menyebut bila tidak kenal. Manakala orang yang menyebut nama kita adalah orang-orang di sekitar kita, yang mana lidahnya sudah terbentuk sebagaimana kita, demikian pula pendengaran dan pengalamannya, maka akan samalah dengan kita menyebut nama kita, tapi manakala orang itu di luar kita, yang mana lidah, pendengaran serta pengalamannya berbeda, maka logis bila mereka tidak bisa berbuat seperti kita, sebagaimana pula kita tidak bisa berbuat seperti mereka. Kala itulah kita paham bahwa kita telah berada ‘di luar wilayah’ kita. Taktala kita berada ‘di luar wilayah’ kita, maka bermakna kita telah bergaul melampaui ‘wilayah asal’ kita. Dengan demikian bila istilah “Boyan’ telah dikenal serta lazim digunakan di Singapore, Malaysia dan beberapa wilayah perantauan orang Bawean sejak masa panjang ke belakang, maka sejak masa panjang ke belakang itulah pergaulan orang-orang Bawean telah begitu luas, yang juga menunjukkan mobilitas orang Bawean telah begitu tinggi sejak beberapa masa yang panjang ke belakang itu. Apakah kata boyan dilontarkan oleh sebab pembawaan lidah saja, atau oleh sebab kurang cermat pendengaran, atau oleh sebab hal lain, wallahua'lam bissawaab. Berkenaan dengan pembawaan lidah misalnya dalam penyebutan nama Salahuddin menjadi Saladin dalam lidah orang barat?, Jabal Tarik menjadi Jibrartar?, Ibnu Sina menjadi Avessina?, nama panggilan penulis Ahmad kawan penulis asal Libanon memanggilnya Ahmed, kawan penulis yang orang putih memanggil Aemed.


Sehubungan dengan penggunaaan bahasa ini perlu pula penulis utarakan di sini bahwa bahasa Madura yang umum adalah bahasa melaayu juga, siapa kiranya yang menyadari hal ini?, caba cermati satu persatu, adapun bahasa dikalangan kraton adalah bahasa Jawa. Semua itu telah mengalami penyesuaian dengann lingkungan setempat.

5. Disifatinya
Apakah atas rasa pengertian dan keluasan wawasan para pendahulu kita, maka istilah Boyan dibiarkan bergulir secara sosiologis, tidak ada ‘politisasi’ dan prasangka, maka istilah Boyan dapat pulalah disifati sebagai salah satu kekayaan warisan datuk moyang kita?, atau akan disifatinya dengan penuh kecurigaan dan prasangaka, diperlukan kearifan kita.


(Bersambung)

TAHU

Oleh: Aba
Manusia untuk tahu haruslah melalui proses tahu, ia tahu karena ada jalan ke tahu itu, jalan ke tahu itu berasal dari hulu (pangkal) tahu, hulu (pangkal) tahu itu yang disebut sumber tahu, sumber tahu akan mengalirkan tahu melalui jalan-jalan tahu, lalu melimpah akan sesiapa, dari sinilah tersebar tahu-tahu.

Saturday, July 17, 2010

HUNGRY JACK’S

Oleh: Aba
Western Australia, Medio Juli 2010.
Hungry Jack’s’ adalah nama suatu restoran. Bilamana kita menginjakkan kaki khususnya di Western Australia, maka kita akan menemui restoran ini di mana-mana tempat, aku yakin semua warga di sini talah mengenal ‘Hungry Jack’s’. Aku pikir restoran ini patutlah dibilang sebagai salahsatu aset kebanggaan Australia.

Bilakah ‘Hangry Jack’s’ ‘kan ekspansi ke berbagai negeri atau manca negara secara luas?!, sehingga dengan demikian ‘kan menjadi diantara ‘ikon’ masakan kebanggaan Australia secara global.

Friday, July 16, 2010

LEMAHNYA MINAT BACA

BEBERAPA FAKTOR PENYEBAB LEMAHNYA MINAT BACA
DI MASYARAKAT KITA
Oleh: Aba
Membaca ibarat sebuah pintu, pintu masuk dalam dunia ilmu. Dengan membaca kita dapat melihat berbagai cakrawala, dari situlah alam pikir kita dapat tercerahkan. Manakala alam pikir kita telah tercerahkan maka implikasinya adalah kepekaan pikir kita akan menjadi tajam, dengan demikian akan menjadi jeli dalam melihat berbagai fenomena. Berbagai motifasi yang dilakukan orang dalam menstimulus untuk mencipta dan meningkatkan minat baca.
Adapun bilamana kita cermati, terdapat diantara kita yang membayangkan seakan-akan minat baca dapat terjadi dengan sendirinya, oleh sebab itu mereka begitu emosionalnya dalam mengamati rendahnya minat baca di kalangan masyarakat kita, mereka membayangkan orang lain sebagaimana dirinya, padahal sejarah hidup yang meliputi situasi dan kondisi baik secara material maupun immaterial orang lain itu berbeda dengan dirinya, mereka mempunyai pemaknaan tersendiri yang berbeda dengan kita dalam memaknai dunia baca. Dari situlah kita dapat melihat betapa kurang arifnya kita ini dalam memahami realita, ternyata kita hanya mampu melihat persoalan secara ‘hitam-putih’, sehingga kata-kata yang tidak senonoh sekalipun terlontar jua.Dalam pendahuluan ini kiranya tak perlu banyak ulasan yang perlu di ketengahkan disini, saya kira kita akan dapat menagkap dan mengembangkan makna baik yang tersurat maupun yang tersirat.

Menurut hemat saya terdapat beberapa factor yang menjadi penyebab lemahnya minat cabaca di masyarakat kita, yang secara ringkas antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Masuknya sarana teknologi visual terlebih dahulu sebelum terbentuknya budaya baca, (perhatikan TV, Game, HP dan lain-lain);
2. Metode pembelajaran di sekolah dengan penonjolan sistem hafalan;
3. Sistem dan metode pendidikan di sekolah yang bersifat pemaksaan tanpa memperdulikan bakat minat peserta didik;
4. Kesediaan bahan bacaan yang lebih berorientasi doktriner;
5. Kuatnya sikap otoriter para pembina generasi kita;
6. Terbatasnya ketersediaan bahan bacaan yang sesuai dan mampu memberi stimulus minat bakat subyek;
7. Terbatasnya fasilitas akses;
8. Terbatasnya anggaran (Budged) yang berimplikasi pada penentuan skala prioritas.
9. Mengakarnya budaya oral.
Maka tak heranlah manakala kita dapati kondisi jenuh dan sikap apriori di masyarakat kita.
Kondisi dalam pointer tersebut di atas tentu haruslah dimaknai saling keterterkaitan satu sama lain, bukan pemaknaan keterpisahan (parsial).

Thursday, July 15, 2010

NUANSA KEIMANAN

Oleh: Aba
Hidup adalah ajang perjuangan yang penuh dengan liku; Dan,
'Allah menjadikan ketaaqwaan sebagai tolok ukur kemulyaan'. (Q:S:49:13).




Foto: Di halaman Masjid 'Rivervale' Perth WA.

MENGGAYUH MEMAHAMI EKSISTENSI TUHAN

Oleh: A. Fuad Usfa Eksistensi Tuhan Berbicara tentang Tuhan berarti berbicara suatu yang gaib, abstrak. Tidak bisa ditangkap dengan penca in...