Thursday, April 14, 2011

ORANG BAWEAN DI OZI (020411)

DIANTARA WAJAH-WAJAH USTADZ ASAL BAWEAN DI AUSTRALIA

Oleh: Aba


Sebagaimana telah penulis utarakan dalam tulisan terdahulu bahwa komunitas Bawean di Christmas Island memperoleh lahan perbaurannya dengan komunitas Melayu dan Kokos, hal tersebut berlanjut hingga mereka di daratan Australia. Oleh karena mereka itu beragama Islam maka keberadaan guru-guru yang mengajar agama (ustadz) sangatlah urgen, diantara mereka itulah tampil orang-orang Bawean dalam mengambil peran itu. Semasa di Christmas Island nama H. Mukri (periode sebelum arus masuk Australia daratan), H. Hefni (periode sebelum arus masuk Australia daratan), H. Miftah dan lain-lain telah dikenal secara luas, selanjutnya setelah pindah ke Australia daratan tetap memainkan peran itu dan berlanjut pula pada kehadiran beberapa pendatang baru yang jaga mengikuti jejak mereka, diantara mereka itu dapat kita catat, yaitu (--Penempatan nomor urut berdasar abjad--):

1. Badrun Akhwan, beliau eksis di Masjid Rivervale Kota Perth.

2. H. Ghufran Yusuf, beliau eksis di Masjid Al-Masjid Hepburn setelah sebelumnya di Majid Jami' Port Hedland selema lebih dari dua puluh tahun.

3. Jamal Siraj S.Ag, beliau eksis di Masjid Al-Majid Hepburn dan pernah pula di Masjid Christmas Island.

4. H. Khairuddin Baharuddin, beliau eksis di Al-Hidayah. Semasa Masjid Al-Majid bernama Masjid Al-Hidayah (sedari awal berdirinya hingga tahun 2007) beliau menjabat sebagai Presiden Masjid.


Mereka itu adalah aktifis, bergerak, berjuang, bersinerji, seirama dengan dinamika pergerakan, untuk Islam di Australia. Tentu tidak banyak yang mampu berbuat seperti mereka, namun orang Bawean yang dari pulau yang kerap kali disebut terpencil itu telah menorehkan sinar di tengah arus modernitas di antara etnis dan bangsa-bangsa di dunia.

ORANG BAWEAN DI OZI (010411)

KATEGORISASI EKSISTENSI ORANG/KETURUNAN ORANG BAWEAN DI AUSTRALIA DARATAN

Oleh: Aba


Setiap individu dan masyarakat berkembang sesuai jamannya, itulah kaedah hidup. Demikian pula halnya dengan eksistensi orang Bawean di Australia daratan. Dalam pengamatan penulis eksistensi orang/keturunan orang Bawean di Australia daratan dapat dibagi dalam empat kategori, yaitu:

* kategori generasi pertama atau perintis, adalah mereka yang merambah jalan masuk ke Australia daratan setelah menempuh jalan panjang melalui Singapore, lalu ke Christmas Island dan baru kemudian merambah jalan masuk ke Australia daratan.

* Kategori ke-dua adalah merupakan generasi peralihan, yaitu mereka yang lahir di Christmas Island atau Singapore atau bahkan sebagian kecil lahir di Bawean, namun semasa masih kecil telah ikut bersama orang tuanya (generasi pertama) bermukim di Singapore dan/atau Christmas Island, mereka itu masih berada di lingkungan komunitas orang tua mereka bersama komunitas Melayu serta Kokos dalam area yang disebut kampung sebagai komunitas muslim yang amat dominan dalam mempola tata nilai mereka, yang kemudian settle di Australia daratan.

* Kategori berikutnya adalah generasi ke-tiga yang merupakan suatu ujud generasi baru, mereka itu lahir di Australia daratan , berbaur dalam kehidupan masyarakat barat, hari-hari bergumul dengan eksistensi budaya dominan Australia, interaksi mereka lebih bersifat luas dan terbuka, antar etnis-antar budaya, dan mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa interaksi sehari-hari, atau setidaknya jauh lebih paham menggunakan bahasa Inggris kendatipun dengan sesama keturunan orang Bawean --umumnya mereka mengerti bahasa Melayu, namun tak mudah untuk mengkomunikasikannya--. Dalam hal yang penulis sebut terakhir ini tentu berbeda dengan generasi pertama/perintis yang dengan sasama orang Bawean menggunakan bahasa Bawean, dan generasi kedua/peralihan yang menggunakan bahasa Melayu, pada generasi kedua/peralihan ini sudah masuk pula orientasi pembauran/kemajemukan walau tidak seluas dalam skala generasi baru.

* Kategori selanjutnya adalah generasi pendatang baru, mereka baru datang ke Australia daratan setelah generasi pendahulu settle di Australia daratan, dan kehadiran generasi pendatang baru tersebut bagian terbesar terkait dengan keberadaan generasi pendahulu. Generasi pendatang baru itu baik yang langsung dari Bawean, maupun yang sebelumnya telah settle di Tanjung Pinang, Singapore ataupun Jawa, dengan bahasa bawaan mereka yang berfariasi sesuai dengan dari daerah mana mereka bermukim, dan orientasi pikirnyapun sudah berfariasi pula.

Saturday, April 2, 2011

PERHELATAN

Oleh: Aba

Suatu perhelatan besar baru saja usai dilakukan, suatu perhelatan rutin tahunan di kampungku, ratusan juta rupiah uang terhamburkan, nuraniku berkata, paradoks dengan apa yang diharapkan untuk membina masyarakat mandiri dan berkesederajatan. 'Wartawan' nuraniku berhasil mewawancarai salah seorang 'duta nuraniku':

Wartawan : Assalamualaikum bapak…

'Sang Duta' : Wa alaikum salam…, o… pak wartawan rupanya…

Wartawan : Wah…, acaranya luar biasa bapak...

'Sang Duta' : Ya…, sungguh luar biasa…

Wartawan : Bagaimana pandangan bapak…?

'Sang Duta' : Bukan main, sungguh luar biasa, ya…, luar biasa, para pemimpin kita telah berhasil dengan menakjubkan, benar-benar telah berhasil dalam membina masyrakat makin berpola hidup konsumtif, berhasil dalam memotifasi tumbuh suburnya sifat riya', berhasil dalam menggelar pertunjukan kesenjangan sosial yang menganga lebar, berhasil dalam memajangkan keangkuhan strata (kelas) sosial atas terhadap yang bawah, berhasil dalam menafsir kemulyaan figur Rasul sebagai obyek perayaan adat atas nama agama sehingga tiada alasan bagi mereka yang telah terbius untuk bisa surut dengan advertensi pahala yang merupakan daya tarik yang luar biasa.

Saturday, March 26, 2011

MEMANFATKAN KONDISI ALAM

Oleh: Aba



Manusia selalu tiada kehabisan akal. Segala kondisi selalu dapat dimanfaatkan, termasuk segala macam tantangan alam. Kita perhatikan misalnya bagaimana masyarakat Western Australia memanfaatkan kondisi musim. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa di Western Australia terdapat empat musim, yaitu musim dingin (winter), musim bunga (spring), musim panas (summer) dan musin gugur (autumn). Di antara ke-empat musim itu yang paling extrim adalah musim panas, sebab pada musim ini suhu bisa mencapai 47*C. Adapun pada musim dingin suhu terendah hanya mencapai 2*C atau 3*C di bawah titik nol, jadi tidak sampai extrim. Walau di musim panas suhu begitu signifikan, ternyata mereka mampu memanfaatkannya untuk dinikmati, mereka memanfaatkan pantai yang

menganga luas, padang-padang dengan hamparan rumput nan hijau serta pepohonannya nan rindang, maupun tempat-tempat pemandian. Western Australia kaya dengan pantai-pantai nan indah dengan hempasan debur ombak samudra Indonesia (Indian Ocean) yang selalu ramai dikunjungi wisatawan sepanjang musim panas, demikian pula kaya dengan tempat-tempat pemandian dan hamparan padang taman yang tersebar luas di berbagai-bagai kawasan. Dalam pada itu pula kita bisa sambil bakar-bakar daging (seperti daging sapi, kambing, ayam ataupun juga ikan yang disini begitu kaya dengan berbagai jenis ikan, sausage/sosis, dan lain-lain) yang lazim dilakukan masyarakatnya, yang mereka sebut barbeque (BBQ).

Setiap tantangan ada jawabnya. Dengan demikian sepanjang musim telah menawarkan daya tariknya tersendiri bagi wisatawan, tentu di samping oyek wisata untuk segala musim.


Mungkinkah kita mampu memanfaatkan musim penghujan yang merupakan musim paling ektrim di Negara kita untuk aktifitas wisata?.








Catatan Penulis: Disini penulis tiada bermaksud memberi penilaian tentang 'mandi-mandi' dipantai atau pemandian umum, untuk itu terpulanglah pada kita semua, dalam hal ini penulis hanya bermaksud memaparkan realita bagaimana kiat mereka dalam menghadapi suatu tantangan alam utuk disikapi dan diolah secara positif dan produktif.

Saturday, February 12, 2011

BELAJAR ISLAM DI AUSTRALIA

Friday, July 9, 2010
(http://ontologyislam.blogspot.com/2010/07/luthfi-assyaukanie-ma-asyiknya-belajar.html)

Luthfi Assyaukanie MA: Asyiknya Belajar Islam di Barat
islamlib.com, 08/03/2004
Oleh Redaksi

Dengan berbagai sarana dan fasilitas yang mencukupi, studi Islam di Barat jelas menggiurkan dan menjadi pilihan yang masuk akal bagi para generasi Islam dari kalangan akademis, termasuk dari Indonesia. Itu yang dirasakan Luthfi Assyaukanie MA, pengajar filsafat di Universitas Paramadina Mulya Jakarta, ketika belajar di sana. Berikut secuil kisahnya.

Maraknya studi Islam yang diselenggarakan oleh dunia Barat, pada satu sisi merupakan bagian dari pragmatisme dunia akademis Barat sendiri. Kebutuhan objektifnya adalah untuk mengenal dunia Islam secara lebih dekat. Karena itu, pelbagai perguruan tinggi dunia Barat membuka bidang studi Islam yang biasanya termasuk dalam lingkup area studies (studi kawasan). Berbagai sarana dan fasilitas yang mencukupi, studi Islam di Barat jelas menggiurkan dan menjadi pilihan yang masuk akal bagi para generasi Islam dari kalangan akademis, termasuk dari Indonesia. Banyak nama yang bisa kita munculkan di sini misalnya Dr. Nurcholish Madjid, Dr. Syafii Maarif, Dr. Amien Rais, Dr. Dien Syamsuddin dan banyak lagi. Kekhawatiran studi Islam di Barat akan menggerogoti nilai-nilai Islam, pada akhirnya terbantahkan oleh kenyataan-kenyataan objektif itu.

Hal tersebut juga dialami oleh Luthfi Assyaukanie MA, pengajar filsafat di Universitas Paramadina Mulya Jakarta. Untuk berbagi pengalamannya, Ulil Abshar-Abdalla dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) mewawancarai kandidat doktor di Melbourne University, Australia, yang saat ini sedang jeda kuliah di Jakarta, sembari melakukan riset untuk melengkapi disertasi doktornya tentang pemikiran Islam kontemporer di Indonesia, Kamis (4/3/ 2004). Berikut petikannya:

ULIL ABSHAR-ABDALLA: Bung Luthfi, Anda pernah kuliah di Timur Tengah. Bisa Anda ceritakan iklim intelektual di sana?

LUTHFI ASSYAUKANIE: Saya belajar di Timur Tengah, tepatnya di Yordania pada akhir tahun 80-an. Tepatnya, dari tahun 1987-1988, saya mulai kuliah mengambil jurusan agama, bukan filsafat. Tepatnya saya kuliah di jurusan Syari’ah, walau kemudian saya mengikuti manner, far’iy atau cabangnya. Saya mengambil filsafat di Fakultas Sastra.
Saya kira, pilihan kuliah ke Yordania ketika itu, selain karena faktor kebetulan, juga karena lingkungan politik dan keagamaan di Yordania saat itu termasuk cukup liberal dibandingkan Negara-negara Teluk, atau bahkan pada tingkat tertentu, Mesir sendiri. Di Mesir pada saat itu, kelompok Ikhwanul Muslimin --misalnya-- dilarang pemerintah untuk melakukan aktivitas politik. Sementara di Yordania, Ikhwanul Muslimin diberi kebebasan yang cukup, dan sempat memenangkan pemilu yang diadakan pertama kali, tahun 1989. Makanya, secara umum saya kira politik keagamaan di Yordania saat itu bisa dikatakan lebih bebas dari negara-negara tetangganya.

ULIL: Bagaimana perkembangan studi filsafat di dunia Islam, dalam pandangan Anda, sekurang-kurangnya dilihat dari jurusan Anda di Timur-Tengah?

LUTHFI: Sebagaimana dikatakan banyak orang, di dunia Sunni, filsafat atau dunia pemikiran secara umum, memang mengalami kemunduran atau kemandegan luar biasa. Orang selalu membandingkan antara dunia Sunni dan dunia Syi’ah dalam perbincangan soal ini. Di dalam tradisi pemikiran Sunni, puncak pemikiran filsafat berhenti pada sosok Ibnu Rusyd. Tapi dalam dunia Syi’ah masih terus berlanjut. Meski demikian, saya juga mengritik dunia pemikiran Syi’ah, karena cenderung pada pemikiran yang bersifat eksoteris. Maksudnya, pemikiran-pemikiran yang bersifat enlightment atau mencerahkan termasuk hilang juga.
ULIL: Sekarang Anda belajar Islam di Australia. Bisakah Anda membandingkan antara lingkungan intelektual di Yordania dengan Australia?

LUTHFI: Secara umum, kehidupan intelektual antara keduanya tidak terlalu banyak berbeda. Mungkin yang berbeda justru pada fasilitas, seperti perpustakaan dan exposure dari orang-orang di dalam dunia akademik. Maksud saya, di lingkungan akademis yang standar di Dunia Barat, saya kira ada iklim yang cukup bebas, dan hampir tidak ada tekanan dalam aktivitas pemikiran karena ideologi atau keyakinan tertentu.

ULIL: Sebagai seorang muslim, dimana kemusliman Anda lebih bisa terekspresikan secara leluasa, di Australia atau di Yordania?

LUTHFI: Itu perbandingan dari ruang dan nuansa yang betul-betul berbeda; yang satu negara yang mayoritas berpenduduk muslim, yang lain mayoritas nonmuslim. Dibilang perbandingan antara negara sekuler dengan negara bukan sekular juga tidak bisa, karena Yordania dalam tingkat tertentu sebetulnya bisa disebut negara sekular, dalam pengertian bahwa agama bukan perkara publik yang terlalu dipentingkan untuk diurus negara. Dalam konteks ini, saya kira, Yordania bukan negara agama, tapi memang penduduknya kebanyakan muslim.

ULIL: Menurut Anda, dari sudut penilaian Islam, apakah Australia bisa dikatakan sebagai negeri yang memenuhi harapan Islam?
LUTHFI: Saya jadi teringat kata-kata Muhammad Abduh, seorang tokoh reformis Mesir yang kemudian pernah berkeliling Eropa. Sebuah statemen yang sangat terkenal darinya adalah ungkapan bahwa dia melihat Islam di Eropa, Inggris dan Perancis khususnya, tapi tidak melihat kaum muslim di sana. Sebaliknya, dia melihat kaum muslim di Mesir (negerinya) tapi tidak melihat Islam di sana.

ULIL: Hal serupa Anda saksikan di Australia?

LUTHFI: Ya, pengalaman serupa saya temukan. Artinya, begitu banyak ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang selama ini saya dapatkan dalam Islam, justru saya temukan aplikasinya di Australia. Misalnya dalam hal kebersihan, ketertiban, keamanan, dan lain-lain. Nilai-nilai tersebut kan semuanya merupakan ajaran yang sejak kecil selalu dicekoki kepada kita. Tapi sayangnya, justru itu tidak kita temukan di banyak negara yang mengklaim sebagai negara muslim mayoritas.

ULIL: Bung Luthfi, orang selalu mencibir bahkan sinis kalau kita belajar Islam di negeri non-Islam. Nah, apa sih alasan Anda belajar Islam di sana?

LUTHFI: Saya kira yang paling utama, yang orang jarang sadari adalah kenyataan bahwa di negara-negara Barat, termasuk Australia, fasilitas pendidikannya luar biasa, sehingga buku-buku keislaman yang kita perolah mungkin jauh lebih banyak ketimbang yang kita temukan di Mekkah dan Madinah sekalipun. Di sana, buku-buku berbahasa Arab luar biasa banyaknya. Koleksi buku-buku klasik Islam cukup banyak. Koleksi buku-buku hadis, misalnya, dari Bukhari-Muslim, Kutubus Sittah, Mustadrak, dan lain-lain, semua bisa didapat dengan mudah, dan dengan fasilitas yang luar biasa memudahkan.

ULIL: Dan banyak juga orang bertanya: kenapa sih orang Barat menyelenggarakan studi Islam di pelbagai perguruan tinggi mereka?

LUTHFI: Saya kira itu bagian dari pragmatisme mereka, yakni tuntutan pasar secara umum. Pada tahun 80-an, di Amerika banyak sekali muncul studi tentang Midlle Eastern (Timur Tengah) atau Near Eastern Studies (Studi Timur Dekat), yang sebetulnya merupakan upaya untuk studi dunia Arab secara keseluruhan. Studi tentang Islam masuk ke dalam departemen ini. Dan mereka mendirikan departemen semacam ini karena ada tuntutan yang mendesak pada saat itu, misalnya karena pesatnya industri, dan booming minyak di Tanah Arab. Oleh kenyataan itu, tentu mereka harus punya penguasaan terhadap kondisi sosial-politik-budaya wilayah tersebut. Dan munculnya departemen ini sama seperti munculnya departemen lain di dalam area studies.

ULIL: Banyak orang mengatakan, semua itu dilakukan Barat untuk menghancurkan Islam sendiri. Menurut Anda, apakah lingkungan akademis di negeri Barat memang memusuhi Islam atau bagaimana?

LUTHFI: Saya kira orang-orang Barat itu pragmatis saja. Dan dunia akademis Barat, secara umum adalah dunia pragmatis. Artinya, mereka membuka bidang studi Islam yang biasa disebut area studies, oleh kebutuhan yang objektif secara akademis. Makanya, kalau kita menemukan teori baru dalam studi Islam, mereka tidak akan pernah campur tangan, sepanjang argumen kita kuat.
Saya kira, di dunia Islam, penemuan-penemuan akademis seperti itu, justru terkadang bermasalah. Misalnya kalau saya bandingkan dengan di Yordania sendiri. Yordania itu kan negara yang relatif lebih bebas dibandingkan Arab Saudi, misalnya. Tapi jika kita mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan mainstream keyakinan di sana, tetap saja ada tekanan dan tidak akan dibolehkan. Ketika masih di Yordania, saya punya teman yang sangat concern akan pemikiran Hizbut Tahrir yang radikal. Tapi kemudian yang menekan dia bukan datang dari kelompok sekular di sana, tapi justru kelompok Islam yang tidak suka akan Hizbut Tahrir. Nah logikanya, kalau pemikiran Islam saja tidak disukai, apalagi pemikiran yang lain.

ULIL: Jadi, motif studi Islam di Barat itu, sebetulnya akademis, politis, atau apa?

LUTHFI: Sejauh yang saya amati, tidak ada apa yang perlu dikhawatirkan kaum muslim selama ini. Misalnya kekhawatiran itu dilakukan sebagai bentuk konspirasi Barat terhadap Islam.

ULIL: Tapi sejumlah sarjana Barat yang sinis terhadap Islam itu kan betul-betul fakta!

LUTHFI: Ya, sama saja dengan fakta sarjana Islam yang sinis terhadap Barat. Dan itu banyak sekali, melebihi banyaknya sarjana Barat yang sinis terhadap Islam. Kalau berbicara pada tataran individu, tentu fenomena itu bisa dikatakan fenomena yang alamiah belaka. Tapi kalau kita berbicara pada tataran umum dan pada level institusi, hal itu sesungguhnya tidak ada. Saya tidak percaya akan hal itu.

ULIL: Sebagai mahasiswa muslim yang belajar Islam di Australia, apakah Anda tidak merasa tertekan?

LUTHFI: Jelas tidak. Sekarang saja yang memegang Departemen Islamic Studies di sana (Melbourne University) adalah seorang muslim. Lulusan Madinah, bahkan. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari studi Islam di Barat. Buat mereka, kalau seseorang itu qualified dan bisa memenuhi syarat-syarat akademis, mereka akan dengan mudah meraih posisi strategis.

ULIL: Terakhir, apa saran Anda untuk para pelajar Islam di Tanah Air, berkaitan dengan dunia Barat?

LUTHFI: Saya ingin menegaskan, banyak sekali yang bisa dipelajari dari dunia Barat. Dan interaksi kita di Dunia Islam dengan Dunia Barat bukanlah hal yang baru. Pada abad ke-2 dan ke-3 Hijriah, banyak sekali intelektual muslim yang berkaca kepada Barat. Mereka mengambil sisi baik Barat, kemudian melakukan reproduksi intelektual yang luar biasa menakjubkan. Mereka menulis buku, bahkan menciptakan teknologi, ilmu kedokteran, dan lain sebagainya. Itu sebagiannya mereka ambil dari Barat. Nah kalau kita punya pengalaman yang baik dengan Barat, kenapa kita tidak tiru itu lagi? []

Retrieved from: http://islamlib.com/id/artikel/asyiknya-belajar-islam-di-barat/ (August 9, 2010)

Friday, October 15, 2010

DETAK WAKTU

Oleh: Aba

Western Australia, Penggal Musim Bunga 2010
Aku amati detak jarum jam tanganku, kala aku sedang duduk di sebuah taman (park), yaitu ‘Centennial Pioneer Park’ di kawasan City of Gosnells, di area taman itu terdapat jalan yang disangga tiang-tiang besi, jalan itu dibuat sedemikian rupa sehingga nampak begitu indah, melingkar menurun hingga ke area bermain, di jalan itu aku amati orang berjalan kaki, tiba-tiba ada anak naik sepeda ontel menyelip si pejalan kaki. Aku pikir ada dua kata kunci di situ, yaitu yang cepat dan yang lambat, namun pun demikian semua itu dalam satu, yaitu dalam detak waktu. Adapun yang patut kita pahami bahwa mereka yang lambat dan yang cepat dan bahkan yang tercepat sekalipun tak pernah mampu mengalahkan waktu.

Aku amati jarum kecil pada jam tanganku, tak…, tik…, tak…, tik…, ternyata wakt yang lamapun hanya sedetik ditambah sedetik dan terus ditambah, dan akan diakhiri oleh detik jua. Detik ini kita lahir, lalu pada detik ini pula uban berjuntai di rambut kita dan pada detik ini pula ajal menjemput kita, tak pernah detik kemaren atau detik akan dating, sebab bila kemaren bermakna sudah terjadi pada detik itu, dan bila akan datang bermakna belum terjadi, hany Alah yang Maha Tahu. Maka yang dimaksud dengan masa (saat) adalah detik, masanya (saatnya) adalah detiknya. Tak ada yang mampu mendahului waktu. Bermain di arus waktu adalah suatu keharusan, keberhasilan detik ini belum tentu di detik yang lain, dan kegagalan di detik ini belum tentu di detik yang lain, masa hanya dalam perhitungan detik yang tiada terasa dalam derap langkah kita.

SANG TAMAN

Oleh Aba

Di Australia begitu banyak taman, di mana-mana kita akan menjumpai taman.

Western Australia, Penggal Musim Bunga 2010
Aku amati detak jarum jam tanganku, kala aku sedang duduk di sebuah taman (park), yaitu ‘Centennial Pioneer Park’ di kawasan City of Gosnells. Persis di sisi taman berdiri Perpustakaan, dan tak jauh pula dari itu terdapat shopping centre, di sisi belakang taman terdapat aliran sungai kecil, dan persis di sisi sungai kecil itulah terdapat pagar pembatas. Di balik pagar selangkah sungai kecil itu aku amati beberapa kambing domba sedang makan rumput dan beberapa yang lain lagi sedang tiduran santai dengan damai.

Aku amati pula anak-anak sedang bermain begitu riang di area taman, bermain ragam permainan, ada yang naik ‘kuda-kudaan’, bergelantungan, ‘plorotan’, naik/turun semacam tali yang dirangkai sedemikian rupa, dan lain-lain. Tak jarang di antaranya yang disertai orang tua mereka. Aku lihat seorang anak kecil dengan umur sekitar dua tahun sedang menagis karena tersandung, dan rupanya orang sang tua telah membesarkan hatinya hingga tak lama kemudian ia bermain kembali. Beberapa group orang sedang bergerombol, umumnya duduk melingkar di atas alas di hamparan rumput taman sambil menikmati hidangan, juga duduk di bangku-bangku taman atau kursi lipat yang dibawa mereka, juga ada yang bakar daging dan selainnya yang disini biasa disebut ‘barbeque’. Aku duduk sambil membaca buku yang aku pinjam di perpustakaan, sedang anak-anak kami bermain berbaur yang sekali-kali datang membawa berita kegembiraan.

Posisi taman berada di lembah, jalan dan area parkir berada pada posisi atas, maka untuk ke area bermain terdapat tangga-tangga yang dibuat begitu artistik, dan di samping itu juga terdapat jalan yang disangga tiang-tiang besi, jalan itu dibuat sedemikian rupa sehingga nampak begitu indah, melingkar menurun hingga ke area bermain, maka dengan demikian hak orang-orang cacat untuk menikmati keberadaan taman tidak terhalang.

Taman adalah merupakan salah-satu konsep sorgawi.

Tuesday, October 5, 2010

PERBINCANGAN BERSAMA USTADZ ABDUL JALIL

PERBINCANGAN BERSAMA USTADZ ABDUL JALIL
SALAH SEORANG TOKOH ISLAM

Oleh: Aba

Di hari Sabtu pada minggu kedua di Hari Raya Fitri 1431 H, bertepatan dengan 9 Syawal/18 September 2010 kami berkesempatan menghadiri acara pernikahan yang diadakan di Masjid ar-Rukun Rockingham. Dalam kesempatan itu kami berkesempatan pula berbincang-bincang dengan salah satu tokoh Islam, yaitu Ustadz Abdul Jalil, beliau adalah Imam Masjid Rivervale. Dalam kesempatan itu beliau mengutarakan bahwa perkembangan Islam dalam sepuluh tahun terakhir ini cukup signifikan, dari segi kuantitas komunitas muslim di Perth makin meningkat, diantara mereka banyak yang datang dari Melborne. Kesenjangan kultural antar etnis di kalangan komunitas Muslim dengan sendirinya akan teratasi dalam perkembangan ke depan sejalan dengan pertumbuhan generasi baru. Penerapan diantara hukum Syari’ah mendapat tempat di bidang perkawinan ataupun yang berkait dengan kematian. Adapun bidang hukum kewarisan biasanya menggunakan cara dilakukan pencatatan sebelum pewaris meninggal dunia (testamenter).
Pada komunitas Muslim Turki mempunyai tradisi tersendiri dalam pembinaan keIslaman, para imam mereka diangkat dari Turki berdasar kebijakan suatu lembaga agama yang berkedudukan di Turki, dan tak seperti pada umumnya imam di masjid-masjid lain yang selalu tetap, imam masjid dalam komunitas Muslim Turki sering berganti. Adapun dalam penentuan awal Ramadhan dan Hari Raya ditentukan berdasar pada perhitungan yang telah ditentukan berdasar pada ketentuan yang telah digariskan dalam kebijakan dari Turki.
KETERANGAN GAMBAR: Ustadz Abdul Jalil (baju putih/Imam Masjid Revervale), di sebelah kanan beliau adalah encik Usman (berkacamata hitam/Presiden Masjid Revervale), kala sedang berbincang santai di bawah tenda di area belakang masjid Revervale. Merajut kebersamaan.

Friday, October 1, 2010

CERBUNG 'LATIFAH-ABDULLAH' (2)

LATIFAH – ABDULLAH
ASAM GARAM DI PULAU IMPIAN
Oleh: Aba

(BAGIAN 2)
Sesampainya di dermaga Sangkapura Abdullah mencegat taxi untuk diantar ke Gunung Teguh dan mencari motel tempat menginap. Abdullah bertanya pada pak sopir, ‘di Gunung Teguh dan sekitar terdapat berapa motel pak?’, tanyanya, ‘oh setahu saya lebih dari sepuluh mas’, jawab pak sopir, ‘saya tolong diantar ke sana pak ya…’, lanjut Abdullah, ‘boleh mas, nanti mas boleh milih, di situ ada yang sekalian ada cottagenya mas, kalau mau mas bisa sewa cottage, hanya saja tarifnya lebih mahalan dikit, namanya Motel & Cottage Salsabilah’, ujar pak sopir, ‘bangunannya didesain dalam bentuk tradisional mas, semua motel di situ didesain tradisional memang, oh iya…, ini saya bawa beberapa brosur untuk motel-motel di situ, termasuk Salsabilah mas’, lanjut pak sopir sambil memberikan beberapa brosur. Setelah membolak-balik brosur itu Abdullah tertarik pada cottage, ‘oh ini saja pak, Cottage, nampaknya lebih menarik dan prevasi khan pak…?!!, kata Abdullah pada pak sopir, ‘baik mas…’, ujar pak sopir, ‘berapa lama mas menginap di situ?, tanya pak sopir usil, ‘tergantung sih pak…, maunya sih satu bulan, mau menikmati udara gunung yang asri di pulau ini pak…, itung-itung rekreasi batin sih…, habis di kota jenuh sih…, sumpek pak…’, kata Abdullah sambil nyengar-nyengir. ‘O…, gitu mas ya…, manusia serba susah mas ya…, mas bilang di kota jenuhlah, sumpek…, pingin menikmati desa, padahal saya sih hidup di sini rasanya bosan mas…, saaapiiii…!!’, ujar pak sopir sambil bercanda; mendengar kata sapi, Abdullah jadi bertanya, ‘sapi apa pak?’, ‘maksud saya sepi mas…, maaf saya hanya bercanda’, ‘oh bapak ini suka bercanda juga ya..?, bagus pak, bercanda itu sehat…, itung-itung juga ngilangin stres khan pak…?’, ujar Abdullah. Tak terasa texi telah sampai di depan Cottage. ‘Telah sampai mas…’, kata pak sopir, ‘oh…, tak terasa, habis bapaknya terlalu ramah sih…, okay pak…, dan berapa pak ongkosnya…?’, ujar Abdullah. Setelah membayar ongkos, Abdullah turun dan menuju ke resepsionis.
*
Motel & Cottage Salasabilah dibangun diatas tanah yang tidak seberapa luas, namun penataannya amat bagus, di halaman depan pojok kanan ditanam pohon pandan yang ditata rapih, maksudnya untuk mengenalkan bahwa dari daun pandan itulah tikar Bawean dibuat, persis di halaman tengah terdapat dzurung kuno dan terdapat pula beberapa dzurung kecil ukuran 1,5 X 2 m2, dzurung-dzurung itu tempat tamu-tamu bersantai sambil memesan makan-minum lesehan, sering juga digunakan untuk rapat bapak-ibu kantoran, LSM sampai dengan perkumpulan olahraga dan selainnya. Menariknya lagi, tiap-tiap dzurung itu diberi nama berganti-ganti sesuai tema, misalnya tema Negara, maka masing-masing dzurung punya nama Negara, seperti Malaysia, Argentina dan lain sebagainya beserta beberapa uraian singkat, seperti ibu kotanya, populasinya dan lain sebagainya serta dipasang di sebuah bingkai yang menarik. Tiap minggu tema-tema itu diganti, maka sang pemilik harus kreatif. Juga menariknya di setiap malam bulan purnama semua lampu di luar dimatikan sehingga dapat menikmati cahaya purnama sambil bersantai duduk di dzurung.
*
Motel & Cottage Salsabilah adalah milik mak Bilah, yang nama lengkapnya Salsabilah Shaleh Khafi.
*
Pada hari pertama itu Abdullah memutuskan untuk tidak ke mana-mana, ia pikir biar rehat aja. Sekitar jam 3 sore mak Bilah lagi duduk di dzurung Canada (tema Negara), Abdullah datang menghampiri seraya menyapa dengan salam, ‘assalamualaikum mak…’, sapa Abdullah, ‘wa alaikum salam’, jawab mak Bilah, ‘ai…, nak Abdullah…’, lanjut mak Bilah, ‘lagi santai mak…?’ tanya Abdullah iseng, ‘iya nak Abdullah…’, jawab mak Bilah. Sesungguhnya kehadiran Abdullah telah mengganggu asyik-masyuknya mak Bilah yang sedang melamunkan anaknya, yaitu Latifah si mata wayang yang mungkin baru usai acara bersama rombongan bapak pimpinan di kota Kecamatan Tambak, namun Abdullah tentu tidak tahu itu semua. Walau begitu mak Bilah mesti bersikap seramah mungkin pada tamunya. ‘apa acara nak Abdullah hari ini dan bagaimana kesan nak Abdullah di pulau kami ini?’, tanya mak Bilah sok usil, dan Abdullah menjawab bahwa hari ini ia belum ke mana-mana, dan baru menikmati suasana sekitar ini saja, ia katakan masih ingin rehat dulu, dan menceriterakan tentang senangnya suasana baru di balik gunung Malokok dengan perkampungan yang damai, bentangan sawah dengan padi yang mulai menguning serta juga sempat mengintip luas lautan di arah selatan sana, ‘yah…, belum kemana-mana mak…, hanya mutar-mutar sekitar sini aja…’, ujar Abdullah. Perbincangan berlanjut antara sang tamu dan sang pemilik hingga tak terasa satu jam telah berlalu dan mak Bilah harus mohon diri oleh sebab tamu baru datang. ‘Ada tamu nak Abdullah, mak layan tamu dulu ya…’ kata mak Bilah mohon diri, ‘baik mak…’, timpal Abdullah.
*
Mak Bilah memang asli kampung itu, liku-liku hidupnya telah ia lalui, pernah pula keputus asaan menyapa diri mak Bilah, dikala suatu ketika, di masa remaja dulu, kala panah asmara menikam di jantung hatinya. Memang acap kali dalam hidup, kita tak mampu memilih, tiba-tiba sesuatu menjelma. Cintapun demikian, ia selalu hadir tanpa diundang, demikian pula dengan kisah cinta-kasih mak Bilah, dalam kemalangan justru ia mendapatkan cinta, dan cinta itu pula yang sempat membawanya dalam kemalangan.
*
Suatu masa yang telah berlalu, Salsabilah adalah mahasiswi di sebuah Perguruan tinggi ternama di Yogyakarta, semester I, II, III, dan IV telah dilalui, keadaan ekonomi orang tua Salsabilah yang pas-pasan telah mengantar ia pada posisi sulit, tatkala tiba suatu saat harus membayar uang kontrakan tempat kos, orang tua Salsabilah dengan terpaksa dan dengan diam-diam pinjam uang pada orang kaya di sebrang desa, tiba saat janji akan membayar, orang tua Salsabilah belum juga ada uang, sedang sebidang tanahnya yang hendak dijual belum juga ada orang yang berminat. Saat itu Salsabilah sedang pulang kampung dalam liburan semester. Suatu sore, di kala Salsabilah sedang berbaring di kamarnya terdengar seseorang mengetuk pintu rumahnya, lalu pak Saleh (ayah Salsabilah) membukakan pintu, ‘assalamualaikum pak Saleh..’ sapa sang tamu, ‘wa alaikum salam…’, jawab pak Saleh, ‘ai…, pak Jun…, silahkan masuk pak Jun…’, pinta pak saleh dengan ramah. Namun pak Junnaidi yang biasa dipanggil pak Jun itu tak berkenan masuk, oleh sebab masih ada keperluan lain, katanya, ia hanya berbicara di pintu saja, ‘begini pak Saleh…, bagaimana dengan hutang pak Saleh…, bila tidak mampu membayar pangkalnya, bayar saja bunganya dulu’, demikian perkataan pak Jun yang langsung menohok tanpa basa-basi. Betapa kagetnya pak Saleh, mengapa tidak?, oleh sebab pak Jun bicara bunga, bila pula diperjanjikan?, namun pak Saleh tak mau memperdebatkannya, dipikir lebih baik mengalah saja, lalu ia berujar, ‘kami mohon maaf yang sebesar-besarnya pak Jun…, hari ini kami belum ada uang pak…, kami masih akan jual tanah…, beri saya waktu dan kami akan melunasi bila tanah telah laku…’ pinta pak Saleh, namun tanpa basa-basi pak Jun langsung menimpali, ‘makanya kalau tidak punya uang jangan berani-beraninya nyekolahkan anak, emangnya uang orang mau bikin bayarin…’, sergahnya dan langsung pergi begitu saja. Salsabilah mendengar dengan jelas perbincangan itu, dan ia tak dapat berbuat apa-apa, hanya air maata yang tiba-tiba membasahi bantal yang dalam dekapannya. Semalaman Salsabilah sulit tidur, hanya sekejap saja sempat tertidur lalu terbangun dan langsung shalat tahajjud, malam itu pula Salsabilah memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah, dan ingin bekerja saja untuk membantu kedua orang tuanya, ia menyesali mengapa telah membikin kedua orang tua yang amat dicintainya itu berada pada posisi sulit dan terhinakan di mata seorang rentenir.

Pagi hari sekira jam 8.30 Salsabilah berangkat menuju sebuah toko milik seorang kaya bernama aba Ayyas, saat itu aba Ayyas baru saja membuka tokonya. ‘Assalamualaikum aba…’, sapa Salsabilah dengan salam, ‘wa alaikum salam…’, jawab aba Ayyas, ‘apa kabar nak…, apa perlu sesuatu…?’, tanya aba Ayyas. Dengan terbata-bata Salsabilah mengatakan pada aba Ayyas, bahwa kedatangannya bermaksud minta tolong pada aba Ayyas. Demi mendengar yang demikian itu aba Ayyas mempersilahkan Salsabilah duduk. Di situ kedua makhluk Allah itu berbicara serius yang intinya Salsabilah memohon untuk dapatnya bekerja di toko aba Ayyas, sedang gaji (--sejumlah utang ayahnya kepada pak Jun--) dimohon dapatnya diberikan di muka, Salsabilah hanya bilang ada perlu saja dan tentu tidak bilang kalau hendak bayar utang. Aba Ayyas bilang bahwa kedatangan Salsabilah adalah tepat waktu, sebab aba Ayyas memang memerlukan tenaga untuk membantu di tokonya, serta tidak keberatan dengan apa yang diharapkan Salsabilah. Betapa senang hati Salsabilah, ingin rasanya ia berteriak dan segera berlari menjumpai kedua orang tuanya, tapi tentu tidak mungkin ia melakukan itu. Salsabilah menangis, aba Ayyas tak tahu harus berbuat apa, aba Ayyas tertegun terheran-heran, lalu bertanya, ‘mengapa nak…?!!, ada apa nak…?!!, mengapa engkau menangis nak…?!!’, tanya aba Ayyas bertubi-tubi, dan sambil terisak Salsabilah hanya menjawab ‘terimakasih aba…, terimakasih’, jawabnya.
*
Sampai saat pembayaran gaji tiba, aba Ayyas ketepatan ada di Surabaya, maka anaknya yang bernama Abbas yang mewakilinya, lalu disisihkanlah uang gaji buat Salsabilah, dan Salsabilah bilang kalau uang gaji selama sekian bulan telah diterima di muka, maka itu Abbas tidak jadi menerimakan. Pada sore harinya aba Ayyas menelpon Abbas dan pada saat itu Abbas menceriterakan tentang gaji Salsabilah, aba Ayyas bilang bahwa uang yang diterimakan kepada Salsabilah dimaksud adalah bukan uang gaji, uang itu dari aba Ayyas untuk membantu kesulitan yang dialami keluarga Salsabilah, maka tiap bulan aba Ayyas akan tetap membayar gaji buat Salsabilah. Aba Ayyas memutuskan untuk membantu kesulitan keluarga Salsabilah sebab ia mendengar kabar dari tetangga Salsabilah bahwa pak Jun ada marah-marah pada pak Saleh waktu menagih utang atau bunga, dan tetangga juga sama dengar, demi yang demikian itu aba Ayyas mengira-ngira sendiri bahwa nampaknya uang gaji yang diminta di muka oleh Salsabilah adalah untuk membayar hutang tersebut, tapi aba Ayyas tidak berkata tentang itu pada Abbas, sebab aba Ayyas selalu menghindari dari sifat riya’ dan itu pula yang diajarkan pada segenap keluarganya.

Selepas maghrib Abbas pergi ke rumah Salsabilah, dan waktu itu Salsabilah baru pulang dari langgar, ia memakai baju kurung warna hijau lumut bermotif kembang-kembang. Sungguh saat itu Abbas begitu tertegun nampak penampilan Salsabilah yang begitu anggun, bibirnya yang merah bagai permata rubi dalam imajinasi Syaikh Nizami, dengan kulitnya yang putih bagai salju terpercik di sela dedaunan dalam sorot cahaya lampu mobil Abbas. Abbas turun dan menyapanya, namun Abbas teragak canggung, dengan salam yang agak kecanggungan itu Abbas menyapa Salsabilah, ‘assalamualaikum Bilah…’, sapanya, ‘wa alaikum salam…’, jawabnya, ‘ai…bang Abbas…’, lanjutnya penuh heran. Salsabilah sungguh merasa terheran-heran mengapa Abbas tiba-tiba datang bertandang ke rumahnya, lalu dengan bingung karena tak tahu apa yang harus dikatakan Salsabilah serta merta mempersilahkan Abbas untuk masuk, ‘silahkan masuk bang Abbas…, silahkan masuk bang…’ pintanya dengan penuh hormat, ‘terimakasih Bilah’, jawab Abbas. Dengan senag hati Abbas masuk ke ruang tamu rumah Salsabilah yang diterangi listrik 60 wat. Sesuatu yang lain tiba-tiba dirasakan Abbas, Abbas merasakan adanya suasana romantis di ruang itu, terasa kedatangannya seperti suasana apel wakuncar, entah makhluk apa gerangan yang telah melintas sehingga suasana di ruang itu betut-betul terasa romantis. Memang kala itu Salsabilah amatlah anggun, diliriknya jemari Salasabilah yang putih dan indah dengan seuntai cincin bermata merah delima melingkar di jari manisnya. Sejenak pula terjadi kebisuan di antara mereka. Sebetulnya Salsabilah telah lama terpikat akan ketampanan Abbas yang masih berdarah arab Hadramout itu, namun perasaan itu dikuburnya oleh sebab ia pikir jauh panggang daripada api, tapi kali ini terasa sulit untuk mengelak, hatinya berdegup, dalam hati Salsabilah bertanya-tanya pula mengapa Abbas tiba-tiba datang…, ada apa gerangan…, ataukah apel…?, ah…, tidak…, tidak mungkin…!!, pertanyaan itu dibuatnya sendiri serta dijawaabnya sendiri pula. Dengan gugup suara Salsabilah memecah keheningan, ‘maaf bang…, bang Abbas minum apa…?, teh atau kopi…?’, tanya Salsabilah; Abbas yang punya selera humor itu tercetus pula candanya, ia pikir sekali gus untuk mencoba menutupi kecanggungannya, dengan senyum simpul dan dengan mata mencuri pandang pada beberapa helai rambut yang menjuntai dari balik kerudung tepat bagai membelah pipi Salsabilah, Abbas berujar ‘teh…, kopi…, apa tak ada yang lainnya lagi Bilah…?!’, Salsabilah jadi merasa bingung dengan jawaban Abbas, ‘Oh…, maklumlah kami hidup pas-pasan bang…’, jawabnya, tapi aduh…!!, dengan jawaban itu Salsabilah malah makin salah tingkah, mengapa ia menjawab sekasar itu?, ia menyesal sekali dengan jawabannya itu, mengapa begitu gugup hingga tak disadarinya ia berkata kasar justru pada orang yang amat dikaguminya?, di tengah kegalauan itu dengan kalem Abbas berujar ‘misalnya air putih Bilah…, sebab aku lebih suka air putih lho…’ ujarnya; Salsabilah benar-benar jadi serba canggung, ‘baik bang…’ jawabnya. Waduh…, 1:0 buat bang Abbas, pikir Salsabilah. Untuk menutupi perasaannya serta merta Salsabilah pergi ke dapur dan kembali dengan segelas air mineral, di suguhinya pula dodol, wajik serta gegerit buatan ibunya. Suasana sudah mulai terasa mencair, kekakuan sudah beringsut lentur, dua remaja sudah mulai bisa menguasai diri. ‘Silahkan bang…’, pinta Salsabilah, semua kue itu makku yang bikin’ lanjutnya. ‘Oh…, mak pandai bikin kue ya…?’ tanya Abbas, ‘iya dong…, makku pandai bikin kue, lagi pula hobbi sih…’ jawab Salsabilah, ‘tapi air putihnya mana…?!, Abbas sudah mulai mengeluarkan candanya, ‘itu khan bang…’ jawab Salsabilah; ‘bukan…, bukan…, itu bukan air putih…, itu khan air bening…’ sergah Abbas, Salsabilah jadi canggung lagi, tapi lagi-lagi Abbas segera mencairkan suasana, ia berujar ‘aku hanya bercanda Bilah…’ ujarnya sambil tertawa, dan Salsabilah pun ikut tertawa, ya…, tertawa riang…, dan dua remaja yang bagai lopak-lopak kalaben todungnga itu tenggelam dalam suasana ceria.

Dalam kesempatan itu pula Abbas menyampaikan uang gaji Salsabilah, yang dengan berat hati uang gaji itu diterima Salsabilah setelah Abbas berupaya meyakinkan bahwa abanya akan amat suka hati bila Salsabilah mau menerimanya, dan sebaliknya akan kecewa hati bilamana Salsabilah enggan menerimanya.

Kebaikan hati hadir dalam diri insan, tiada memandang akan suku, bangsa, ras, ataupun keyakinannya, tiada memandang kecantikan ataupun ketampanan, demikian pula dengan keburukan hati. Acap kita dapati betapa orang jauh yang tiada kita kenal sekalipun telah menberi manfaat bagi kita, sementara orang yang dekat, baik satu keyakinan, satu ras, satu suku, satu negri, satu desa, satu kampung, bahkan sedarah sekalipun justru dapat menaburkan duka. Hati bersemayam dalam dada, tersembunyi, tiada cahaya dapat menembusnya, hitam dan pekat kemerahan warna padanya, namun bila ia baik maka ia dapat menyinari kegelapan yang tergelap sekalipun, lebih kuat daripada cahaya matahari di musim kemarau, ia pun akan mampu menghamparkan permadani putih berkilauan, lebih putih dari hamparan salju, namun bila ia jahat semua cahaya kan tertutupi, bagai malam kelam menutupi segala cahaya, ia pun akan mampu menghamparkan lumpur yang penuh onak dan duri.

Salsabilah telah beruntung mendapat kenal dengan Abbas dan keluarganya yang mulya hati itu, orang bijak tentu akan bilang kebaikan tak dapat diukur dengan tampakan kasap mata, tak selalu yang indah di mata itu baik, pun tak selalu yang buruk di mata itu buruk, ada kala yang indah di mata itu justu menyimpan keburukan di baliknya, bagai pesona gunung yang nampak menawan, namun bersemayam didalamnya segala binatang buas dan berbisa, di selain dari itu, tiada jarang yang indah di kasap mata, dan padanya pula menyimpan keindahan di baliknya, bagai sebuah istana yang memikat di luar dan memikat pula di dalamnya. Tersebut terakhir itulah perumpamaan Salsabilah dan pula Abbas.
*
(Bersambung)

CERBUNG 'LATIFAH-ABDULLAH' (1)

LATIFAH-ABDULLAH
ASAM GARAM DI PULAU IMPI

Oleh: Aba

Kisah ini hanyalah khayalan penulis,
bilamana terdapat perkenaan ataupun persinggungan
dengan apa dan/atau sesiapapun sungguh di luar
kesengajaan, maka dengan yang demikian itu penulis mohon maaf dan maklum adanya.
Kemudian daripada itu perlu penulis sampaikan bahwa tulisan ini telah pernah dimuat di Media Bawean.

(BAGIAN 1)
Dari kejauhan nampak ombak memutih menghempas karang dam, semilir angin pegunungan sayup-sayup sampai, udara cerah, sinar sang surya yang mula beranjak naik telah menambah kesegaran di pagi itu, betapa agungnya Tuhan yang telah menciptakan alam semesta ini. Latifah duduk termenung, matanya yang indah dengan kelopaknya yang merekah menatap jauh hingga ke laut lepas, sesekali ia melirik kearah Pulau Selayar yang sebagian pesisirnya telah dirancang bagai bayang-bayang Pulau Sentosa di Negara kota Singapore. Entah mengapa Latifah tiada tertarik akan keindahan alam tetumbuhan yang subur menghijau, garis jalan raya yang melingkar di berbagai sudut kota kecamatan Sangkapura dengan tatanan paving yang ala Dataran Merdeka Kuala Lumpur, dengan alun-alun yang bagaikan tailalat menghias di wajah perawan. Tak biasanya si dara jelita itu berlaku seperti itu, ia dikenal sebagai gadis yang periang dan peramah, tapi kali ini, di teras bagunan ‘Ongguna Ye’ nan indah rupawan yang berdiri tegar di puncak Gunung Malokok, di tengah ramainya anak-anak balita bermain bersama orang tua merekapun tiada mengusik perhatiannya.

Kehadiran Latifah si bidadari sorgawi di gedung ‘Ongguna Ye’ itu untuk memenuhi undangan pihak Kecamatan dalam rangka menyambut kehadiran rombongan bapak Pimpinan dari pusat Kota Gresik. Latifah yang gadis aktifis di sekolahnya memang mempunyai keunggulan sebagai pembawa acara (MC), ia pernah menjuarai lomba MC se Kabupaten, suaranya yang merdu bag bulu perindu, dengan penampilan yang simpatik serta akhlak budi pekerti dalam tingkah pola dan tutur katanya telah membikin banyak orang terkesima, belum lagi ayu parasnya yang bagaikan bulan purnama tersumbul di atas awan.
*
Sementara Latifah tengah termenung di teras gedung ‘Ongguna Ye’, di Pelabuhan Gresik hiruk pikuk orang yang hendak menuju Pulau Bawean. Kala itu kapal telah bersandar, dan di tengah kumpulan orang-orang itu terdapat seorang anak muda asal Surabaya, wajahnya tampan, keteduhan terpancar di raut wajah serta dalam sikapnya, ia sendirian, tiada berkawan; pemuda itu bernama Abdullah.

Di sebelah kanan Abdullah terdapat beberapa orang asik berbincang tentang Pulau Bawean, tentang keindahannya, tentang keramahan penduduknya, dan berbagai hal yang menarik. Abdullah hanya mendengar saja akan perbincangan itu, ia pikir lumayan untuk tambahan informasi oleh sebab ia baru pertama kali ini hendak menginjakkan kaki di pulau sang Axis Kuhlii. Diantara pembicaraannya ia berujar: ‘Pulau Bawean itu amat menarik lho…, ia merupakan kawasan wisata andalan Kabupaten Gresik, coba bayangkan, di situ ada gunung berderet dan bahkan berjubel, ada pantai, taman-taman laut, sungai, air terjun, danau, bukit dan curah sangat kondusif untuk bumi perkemahan yang menawan, juga menjadi bumi petualangan sang pecinta alam, semua pulau-pulau kecil di sekitarnya dikemas dengan kemasan menarik semisal wisata arung, selam, pancing…(--tiba-tiba seseorang di sebelahnya menyelai: ‘cari kepiting…’, yang disertai gelak tawa yang lain--). Kemudian orang tadi melanjutkan percakapannya dengan penuh antusias lagi: ‘coba kalau kita bandingkan dengan kawasan wisata di Jawa Daratan, tidak ada kawasan wisata yang memiliki sedemikian komplit obyek, paling gunung saja atau pantai saja, iya khan…?!!, iya khan…?!!. Kalau di Jakarta orang-orang telah menjadikan Pulau Seribu sebagai kawasan wisata setelah ‘jenuh’ dengan alam pegunungan di Puncak, kini saatnya orang-orang Surabaya dan sekitarnya –-khususnya lho…!!’-- berpaling ke Pulau Bawean!!’. Lalu seseorang lagi diantaranya tak mau kalah antusiasnya, ia menimpali: ‘ Bahkan saya sudah mulai mencoba menanamkan modal kecil-kecilan di sektor kerajinan tangan, yaitu anyaman tikar, ya…, saya desain macam-macam barang seperti tas, sajadah, berbagai model kopiah dan lain-lain dengan anyaman yang halus, lebih halus dari yang tradisional lho…, batu onix, garmen untuk baju kurung dan teluk belanga, serta tenunan songket yang saya rancang bermotifkan anyaman tikar Bawean serta ‘odeng’ untuk acara-acara seremonial seperti resepsi perkawinan, pencak silat dan lain-lain. Untuk itu saya sudah mempelajari adat tradisi orang Bawean masa-masa lalu yang kemudian dikemas dengan kolaborasi kontemporer dan tentu saya mesti bekerjasama dengan orang-orang Bawean yang peduli terhadap budayanya. Oh iya, di kawasan wisata Batu Malang saya membuka showroom yang saya kasih nama “Bawean Art”. Perbincangan itu terus berkembang hingga ada pengumuman bahwa para penumpang kapal dipersilahkan untuk naik ke atas kapal.

Bapak Pimpinan beserta rombongan naik kapal dengan antri bersama penumpang lainnya serta tidak menampakkan jati dirinya. Bapak Pimpinan memang sengaja tidak memberitahukan kunjungannya ke khalayak ramai melainkan hanya pada orang-orang tertentu saja yang terkait dengan kehadirannya. Waktu mengadakan rapat bersama stafnya, salah seorang staf yang sedang duduk disebelahnya berbisik pada bapak Pimpinan: ‘apa tidak diberitahukan ke khalayak ramai bapak?, sehingga nantinya kita dijemput oleh rakyat beramai-ramai di dermaga termasuk anak-anak sekolah bapak?’ ujarnya; dengan nada tidak senang bapak Pimpinan balik berbisik dengan nada meninggi: ‘kita ini Pimpinan tahu…!!, bukan artis..!!, apalagi mengapa rakyat mesti harus selalu melayani kita, direpotkan kita, sementara kita belum bisa melayani mereka dengan baik…??!!’. Namun sang staf yang sok terhormat itu masih ngotot juga: ‘mereka senang kok bapak…’; bapak Pimpinan hanya melirik sinis saja dan tak memperdulikan si staf.
*
Di gedung ‘Ongguna Ye’ Latifah telah menyiapkan apa yang mesti ia lakukan, Panitia sudah memberitahukan tentang agenda acara yang telah final setelah terdapat perubahan berkali-kali, maka itu gladi resik sudah bisa dimulai.

Sebagaimana biasa, rombongan akan singgah di Pendopo Kawedanan yang terletak di sebelah Alun-alun Kota Kecamatan Sangkapura, di situ akan diadakan sambutan Selamat Datang, yang tentu tiada kan lupa suguhan Pencak Silat ‘Selamat Datang’ (yang dirancang oleh para pendekar se Pulau Bawean setelah terlebih dahulu mengadakan Sarasehan dan Lokakarya. Pencak Silat ‘Selamat Datang’ tersebut untuk menyambut kehadiran orang-orang penting). Selepas itu rombongan akan bertolak menuju ‘Ongguna Ye’, dan acara pertama diadakan di Aula ‘Ongguna Ye’, dilanjutkan dengan acara rapat Pimpinan khusus di Ruang Pertemuan Terbatas ‘Ongguna Ye’. Setelah acara resmi telah rampung mereka akan mencoba melihat bentangan alam sekitar melalui teropong pembesar yang dibuat bagai di Menara Kuala Lumpur (KL Tower). Setelah acara di ‘Ongguna Ye’ semua rampung rombongan akan menuju Gedung ‘ La Tao Ye’ di puncak Gunung Totogi dengan naik Kereta Gantung (cable car) dari Stasiun Kereta Gantung ‘Ongguna Ye’ ke Stasiun Kereta Gantung ‘La Tao Ye’, di situ rombongan akan melakukan peninjauan Musium Sejarah ‘la Tao Ye’ yang terletak di Gedung ‘La Tao Ye I’ di bagian puncak, serta Gedung Kesenian ‘La Tao Ye’ yang terletak di Gedung ‘La Tao Ye II’ pada bagian lereng sebelah timur yang dilengkapi pula dengan panggung-panggung alam terbuka, sedang akses jalan dibangun dari berbagai penjuru.

Lingkungan dijaga sedemikian rupa untuk menghindari kelongsoran, dan untuk itu tentu ditangani akhli, sehingga alam lingkungan sekitar Gunung Malokok dan Gunung Totogi sedari puncak hingga ke lereng serta sungai menjadi kawasan hutan lindung dan taman yang menarik. Pemakaman rapih dan bersih, sehingga peziarahpun jadi senang.

Seharian bapak Pimpinan beserta rombongan di Pulau Bawean, termasuk meresmikan jalan lingkar Kota Kecamatan Tambak yang dikerjakan beberapa tahap, dan saat ini peresmian tahap akhir serta yang juga dipaving ala Dataran Merdeka Kuala Lumpur seperti halnya jalan lingkar Kota Kecamatan Sangkapura. Setelah semua agenda acara telah rampung, dengan senyuman nan indah bapak Pimpinan yang piawai menggaet investor itu beserta rombongan kembali dengan menumpang pesawat udara dari Bandar udara Bawean. Sayonara. Selamat jalan bapak, sampai jumpa lagi, kami selalu merindukanmu.
*
(Bersambung)

SESOSOK ORANG BAWEAN

SESOSOK ORANG BAWEAN
SANG PENGABDI DI SUATU MASJID
DI WESTERN AUSTRALIA

Oleh: Aba

Bilamana kita dapat menyempatkan diri singgah shalat di sebuah masjid besar yang bernama ‘Masjid Al-Majid’, yang terletak di kawasan Hepburn Western Australia kita akan selalu berjumpa dengan sosok orang Bawean yang usianya sudah berkepala delapan, beliau adalah H. Zuhdi, yang hari-hari biasa dipanggil bapak H. Guppan.Beliau berasal dari Desa Lebak Kecamatan Sangkapura. Penampilannya selalu ramah, kerap kali kami bertemu beliau, kadang berbincang panjang lebar, isi bicaranya selalu positif, itulah yang kami tangkap dari beliau. Putra/putri beliau sebanyak lima orang, serta cucu beliau sebanyak tiga belas orang, mereka berdomisili di Western Australia. Salah seorang putra beliau adalah Sarjana Agama Islam lulusan Institut Agama Islam Negeri Surabaya, yang sebelumnya mondok di Pondok Pesantren Darul Hadis Malang Jawa Timur serta sebelum itu juga sempat mondok di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, beliau adalah Zuhnan Zuhdi, S.Ag.

H. Zuhdi memasuki daratan Australia pada 1977 setelah sebelumnya bermukim di Christmas Island sejak 1952 dan sebelumnya dari Bawean ke Singapore 1951.

Di Masjid itu selalu merayakan hari-hari besar Islam, seperti acara Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi dan lain-lain yang dirayakan sebagaimana laiknya dalam budaya Nusantara, adapun pembicaranya acap kali dari Malaysia, Singapura serta Indonesia.

Sebagai masjid besar jamaahnya terdiri dari berbagai suku/etnik maupun ras. Memanglah sesungguhnya merangkai persaudaraan, kebersamaan dan perdamaian adalah merupakan rohul Islam. (Q:S:49:10; S:2:256; S:49:13; S:21:107)
Keterangan Foto: 1. H. Zuhdi beserta Istri (atas), 2. Zuhnan Zuhdi, S.Ag (bawah).

MENGGAYUH MEMAHAMI EKSISTENSI TUHAN

Oleh: A. Fuad Usfa Eksistensi Tuhan Berbicara tentang Tuhan berarti berbicara suatu yang gaib, abstrak. Tidak bisa ditangkap dengan penca in...