Saturday, July 1, 2017

FILM PENDEK ITU (1)

Oleh: A. Fuad Usfa
Kita mengenal film dokumenter dan juga film imajiner/fiksi. Belakangan ini kita diributkan dg film pendek polisi. Banyak yg meributkan, ada pula yg kebakaran jenggot, bahkan lakon yg ditunjukkan dlm film itu dihubungkan dg fakta dilapangan, dlm arti apa ada yg persis seperti itu.

Itu adalah film pendek serta imajener/fiksi. Film imajener/fiksi berbeda dg film dokumenter. Film imajiner/fiksi yg diunggah polisi itu mencoba menggambarkan secara keseluruhan roh dari tema yg diangkat. Tentu sah2 saja. Maka tidak harus menampilkan kejadian perkasus di lapangan, tentu bisa saja lakon yg ditunjukkan di situ tidak harus sama dg kejadian perkasus di lapangan, tapi bisa menunjukkan roh secara utuh kondisi di lapangan dg menerobos ruang dan waktu. Ruang dalam arti di mana sja, sedang waktu dalam arti kapan saja, ia bisa melaju kedepan, mendahului kondisi yg ada pada hari ini dan hari yg telah lewat. Ia adalah gambaran utuh secara menyeluruh. Menggambarkan kondisi seperti itu tentu tidak mudah, apa lagi dalam film pendek.

Intoleransi adalah real di lapangan, hal tersebut nyata2 terjadi, bukan suatu hayalan, makin menggelinding menyasar pada siapa saja yg berbeda. Tidak tanggung2, ancaman dan teror di lancarkan bertubi2. Ini fakta. Temanya selalu merujuk pada agama.

Intoleransi ditularkan di mana2 pada semua kalangan. Isu kafir dan pengkafiran sudah bukan rahasia lagi. Sudah banyak juga yg menyambut kehadiran isu itu, tak sulit kita menemuinya, bahkan teramat mudah sekali. Walau masih banyak kita lihat di antara mereka yg mana mereka bertumpuh 'di satu kaki tetap aktif menyuarakan anti kafir, sedang di satu kakinya lagi masih tak kuasa berlepas diri dari ketergantungan pada si kafir'. Hal ini dapat kita lihat dalam dunia kerja misalnya, yg mana mereka merasakan nikmatnya bersekongkol dg si kafir. Bekerja pada perusahaan2 kafir, atau patungan dg si kafir (subhat???!!!). Mereka berbangga dg jerih payah si kafir, hidup sejahtera dan makmur karenanya.
Banyak yg bekerja di perusahaan2 yg tak memperdulikan halal-haram, namun gajinya dinikmati untuk segenap keluarga, untuk sanak familinya. Belum lagi jasa bank, dll.

Mereka masih berasyik masyuk berkawan, bergumul, bersalaman, dll, dg si kafir. Hal tersebut mungkin oleh sebab ketidak tahuannya bahwa kafir itu najis, sehingga dg begitu leluasanya berbaur (dalam pengertian luas) dg si kafir. Terhadap kelompok ini bisa jadi apa yg di gambarkan dalam film itu akan mengedepan saat elit2 mereka membuka kran dan mengumbarkan secara terbuka. Kemungkinan yg ke dua, bisa jadi mereka tahu namun mereka menutup mata oleh sebab yg kita tidak bisa menduga, tentu banyak sebab. Di lapangan kita menjumpai juga ada yg bereaksi keluar dari lingkaran (tentu dalam persepsinya), itu kiranya yg terjadi pada keponakan Jimly Asshiddiqy sebagai yg bisa kita akses dari keterangan Jimly dalam unggahan di youtube.  Kemungkinan ketiga oleh sebab pemahaman keagamaan yg luas, yg tentu memahami agama tdk hanya berkutat pada teks apa adanya.
(AFOF, Cannington WA, 30 Juni 2017)
(BERSAMBUNG)

No comments:

Post a Comment

MENGGAYUH MEMAHAMI EKSISTENSI TUHAN

Oleh: A. Fuad Usfa Eksistensi Tuhan Berbicara tentang Tuhan berarti berbicara suatu yang gaib, abstrak. Tidak bisa ditangkap dengan penca in...