Friday, October 1, 2010

CERBUNG 'LATIFAH-ABDULLAH' (1)

LATIFAH-ABDULLAH
ASAM GARAM DI PULAU IMPI

Oleh: Aba

Kisah ini hanyalah khayalan penulis,
bilamana terdapat perkenaan ataupun persinggungan
dengan apa dan/atau sesiapapun sungguh di luar
kesengajaan, maka dengan yang demikian itu penulis mohon maaf dan maklum adanya.
Kemudian daripada itu perlu penulis sampaikan bahwa tulisan ini telah pernah dimuat di Media Bawean.

(BAGIAN 1)
Dari kejauhan nampak ombak memutih menghempas karang dam, semilir angin pegunungan sayup-sayup sampai, udara cerah, sinar sang surya yang mula beranjak naik telah menambah kesegaran di pagi itu, betapa agungnya Tuhan yang telah menciptakan alam semesta ini. Latifah duduk termenung, matanya yang indah dengan kelopaknya yang merekah menatap jauh hingga ke laut lepas, sesekali ia melirik kearah Pulau Selayar yang sebagian pesisirnya telah dirancang bagai bayang-bayang Pulau Sentosa di Negara kota Singapore. Entah mengapa Latifah tiada tertarik akan keindahan alam tetumbuhan yang subur menghijau, garis jalan raya yang melingkar di berbagai sudut kota kecamatan Sangkapura dengan tatanan paving yang ala Dataran Merdeka Kuala Lumpur, dengan alun-alun yang bagaikan tailalat menghias di wajah perawan. Tak biasanya si dara jelita itu berlaku seperti itu, ia dikenal sebagai gadis yang periang dan peramah, tapi kali ini, di teras bagunan ‘Ongguna Ye’ nan indah rupawan yang berdiri tegar di puncak Gunung Malokok, di tengah ramainya anak-anak balita bermain bersama orang tua merekapun tiada mengusik perhatiannya.

Kehadiran Latifah si bidadari sorgawi di gedung ‘Ongguna Ye’ itu untuk memenuhi undangan pihak Kecamatan dalam rangka menyambut kehadiran rombongan bapak Pimpinan dari pusat Kota Gresik. Latifah yang gadis aktifis di sekolahnya memang mempunyai keunggulan sebagai pembawa acara (MC), ia pernah menjuarai lomba MC se Kabupaten, suaranya yang merdu bag bulu perindu, dengan penampilan yang simpatik serta akhlak budi pekerti dalam tingkah pola dan tutur katanya telah membikin banyak orang terkesima, belum lagi ayu parasnya yang bagaikan bulan purnama tersumbul di atas awan.
*
Sementara Latifah tengah termenung di teras gedung ‘Ongguna Ye’, di Pelabuhan Gresik hiruk pikuk orang yang hendak menuju Pulau Bawean. Kala itu kapal telah bersandar, dan di tengah kumpulan orang-orang itu terdapat seorang anak muda asal Surabaya, wajahnya tampan, keteduhan terpancar di raut wajah serta dalam sikapnya, ia sendirian, tiada berkawan; pemuda itu bernama Abdullah.

Di sebelah kanan Abdullah terdapat beberapa orang asik berbincang tentang Pulau Bawean, tentang keindahannya, tentang keramahan penduduknya, dan berbagai hal yang menarik. Abdullah hanya mendengar saja akan perbincangan itu, ia pikir lumayan untuk tambahan informasi oleh sebab ia baru pertama kali ini hendak menginjakkan kaki di pulau sang Axis Kuhlii. Diantara pembicaraannya ia berujar: ‘Pulau Bawean itu amat menarik lho…, ia merupakan kawasan wisata andalan Kabupaten Gresik, coba bayangkan, di situ ada gunung berderet dan bahkan berjubel, ada pantai, taman-taman laut, sungai, air terjun, danau, bukit dan curah sangat kondusif untuk bumi perkemahan yang menawan, juga menjadi bumi petualangan sang pecinta alam, semua pulau-pulau kecil di sekitarnya dikemas dengan kemasan menarik semisal wisata arung, selam, pancing…(--tiba-tiba seseorang di sebelahnya menyelai: ‘cari kepiting…’, yang disertai gelak tawa yang lain--). Kemudian orang tadi melanjutkan percakapannya dengan penuh antusias lagi: ‘coba kalau kita bandingkan dengan kawasan wisata di Jawa Daratan, tidak ada kawasan wisata yang memiliki sedemikian komplit obyek, paling gunung saja atau pantai saja, iya khan…?!!, iya khan…?!!. Kalau di Jakarta orang-orang telah menjadikan Pulau Seribu sebagai kawasan wisata setelah ‘jenuh’ dengan alam pegunungan di Puncak, kini saatnya orang-orang Surabaya dan sekitarnya –-khususnya lho…!!’-- berpaling ke Pulau Bawean!!’. Lalu seseorang lagi diantaranya tak mau kalah antusiasnya, ia menimpali: ‘ Bahkan saya sudah mulai mencoba menanamkan modal kecil-kecilan di sektor kerajinan tangan, yaitu anyaman tikar, ya…, saya desain macam-macam barang seperti tas, sajadah, berbagai model kopiah dan lain-lain dengan anyaman yang halus, lebih halus dari yang tradisional lho…, batu onix, garmen untuk baju kurung dan teluk belanga, serta tenunan songket yang saya rancang bermotifkan anyaman tikar Bawean serta ‘odeng’ untuk acara-acara seremonial seperti resepsi perkawinan, pencak silat dan lain-lain. Untuk itu saya sudah mempelajari adat tradisi orang Bawean masa-masa lalu yang kemudian dikemas dengan kolaborasi kontemporer dan tentu saya mesti bekerjasama dengan orang-orang Bawean yang peduli terhadap budayanya. Oh iya, di kawasan wisata Batu Malang saya membuka showroom yang saya kasih nama “Bawean Art”. Perbincangan itu terus berkembang hingga ada pengumuman bahwa para penumpang kapal dipersilahkan untuk naik ke atas kapal.

Bapak Pimpinan beserta rombongan naik kapal dengan antri bersama penumpang lainnya serta tidak menampakkan jati dirinya. Bapak Pimpinan memang sengaja tidak memberitahukan kunjungannya ke khalayak ramai melainkan hanya pada orang-orang tertentu saja yang terkait dengan kehadirannya. Waktu mengadakan rapat bersama stafnya, salah seorang staf yang sedang duduk disebelahnya berbisik pada bapak Pimpinan: ‘apa tidak diberitahukan ke khalayak ramai bapak?, sehingga nantinya kita dijemput oleh rakyat beramai-ramai di dermaga termasuk anak-anak sekolah bapak?’ ujarnya; dengan nada tidak senang bapak Pimpinan balik berbisik dengan nada meninggi: ‘kita ini Pimpinan tahu…!!, bukan artis..!!, apalagi mengapa rakyat mesti harus selalu melayani kita, direpotkan kita, sementara kita belum bisa melayani mereka dengan baik…??!!’. Namun sang staf yang sok terhormat itu masih ngotot juga: ‘mereka senang kok bapak…’; bapak Pimpinan hanya melirik sinis saja dan tak memperdulikan si staf.
*
Di gedung ‘Ongguna Ye’ Latifah telah menyiapkan apa yang mesti ia lakukan, Panitia sudah memberitahukan tentang agenda acara yang telah final setelah terdapat perubahan berkali-kali, maka itu gladi resik sudah bisa dimulai.

Sebagaimana biasa, rombongan akan singgah di Pendopo Kawedanan yang terletak di sebelah Alun-alun Kota Kecamatan Sangkapura, di situ akan diadakan sambutan Selamat Datang, yang tentu tiada kan lupa suguhan Pencak Silat ‘Selamat Datang’ (yang dirancang oleh para pendekar se Pulau Bawean setelah terlebih dahulu mengadakan Sarasehan dan Lokakarya. Pencak Silat ‘Selamat Datang’ tersebut untuk menyambut kehadiran orang-orang penting). Selepas itu rombongan akan bertolak menuju ‘Ongguna Ye’, dan acara pertama diadakan di Aula ‘Ongguna Ye’, dilanjutkan dengan acara rapat Pimpinan khusus di Ruang Pertemuan Terbatas ‘Ongguna Ye’. Setelah acara resmi telah rampung mereka akan mencoba melihat bentangan alam sekitar melalui teropong pembesar yang dibuat bagai di Menara Kuala Lumpur (KL Tower). Setelah acara di ‘Ongguna Ye’ semua rampung rombongan akan menuju Gedung ‘ La Tao Ye’ di puncak Gunung Totogi dengan naik Kereta Gantung (cable car) dari Stasiun Kereta Gantung ‘Ongguna Ye’ ke Stasiun Kereta Gantung ‘La Tao Ye’, di situ rombongan akan melakukan peninjauan Musium Sejarah ‘la Tao Ye’ yang terletak di Gedung ‘La Tao Ye I’ di bagian puncak, serta Gedung Kesenian ‘La Tao Ye’ yang terletak di Gedung ‘La Tao Ye II’ pada bagian lereng sebelah timur yang dilengkapi pula dengan panggung-panggung alam terbuka, sedang akses jalan dibangun dari berbagai penjuru.

Lingkungan dijaga sedemikian rupa untuk menghindari kelongsoran, dan untuk itu tentu ditangani akhli, sehingga alam lingkungan sekitar Gunung Malokok dan Gunung Totogi sedari puncak hingga ke lereng serta sungai menjadi kawasan hutan lindung dan taman yang menarik. Pemakaman rapih dan bersih, sehingga peziarahpun jadi senang.

Seharian bapak Pimpinan beserta rombongan di Pulau Bawean, termasuk meresmikan jalan lingkar Kota Kecamatan Tambak yang dikerjakan beberapa tahap, dan saat ini peresmian tahap akhir serta yang juga dipaving ala Dataran Merdeka Kuala Lumpur seperti halnya jalan lingkar Kota Kecamatan Sangkapura. Setelah semua agenda acara telah rampung, dengan senyuman nan indah bapak Pimpinan yang piawai menggaet investor itu beserta rombongan kembali dengan menumpang pesawat udara dari Bandar udara Bawean. Sayonara. Selamat jalan bapak, sampai jumpa lagi, kami selalu merindukanmu.
*
(Bersambung)

No comments:

Post a Comment

MENGGAYUH MEMAHAMI EKSISTENSI TUHAN

Oleh: A. Fuad Usfa Eksistensi Tuhan Berbicara tentang Tuhan berarti berbicara suatu yang gaib, abstrak. Tidak bisa ditangkap dengan penca in...