Saturday, January 6, 2018

TEROMPET KAMI

Seri Aku Anak Desa:
TROMPET KAMI
By: Kookaburra

Aku berasal dari desa, hidup di sebuah kampung. Kampungku subur, dialiri beberapa anak sungai. Sekitar tiga  ratus meter dari rumahku pun terdapat aliran sungai.

Hanya sekitar seratus meter saja dari rumahku terdapat bentangan sawah. Bentangan sawah itu hingga ke aliran sungai yg saya sebut di atas. Sawah itu subur dan terbilang lahan sawah yg bangus di sekelilingku.

Ada salah-satu kegembiraan masa kecilku yang selalu kuingat. Yaitu pada saat musim panen padi. Kawan2 seusiaku mengambil batang padi, lalu dibikin mainan tropmpet. Bila dililiti dengan janur, maka akan berujud trompet yg beragam bentuknya, yg berdampak pula pada lekuk suaranya.

Pada saat itu hari2 di kampungku, di Desaku, di kawasanku, ramai terdengar suara trompet. Ragam2 suara terompet terdengar, dari yg ‘centil’ hingga yg ‘gendut’.

Betapa riang hati kami, riang, yaaa..., riang sekali... Kami bermain terompet sejak entah umur berapa (?), sejak aku belum bisa bikin sendiri, sejak aku hanya dibikinkan, hingga aku bisa membikinnya sendiri, lalu hingga membikin dengan balutan janur yg bervariasi.

Wahai trompet..., ternyata kau ada di mana2, termasuk di kampungku nan damai, dan damai pula bersamamu.
(Cannington WA, 1 Januari 2018)

No comments:

Post a Comment

MENGGAYUH MEMAHAMI EKSISTENSI TUHAN

Oleh: A. Fuad Usfa Eksistensi Tuhan Berbicara tentang Tuhan berarti berbicara suatu yang gaib, abstrak. Tidak bisa ditangkap dengan penca in...