Wednesday, June 23, 2010

TAPAK LANGKAH

Oleh: Aba

Perth, Medio Juni 2010
1. Di bulan Oktober tahun 2000 aku dan beberapa kawan seprofesi (dalam hal ini para Dekan, Pembantu Rektor III dan Direktur ACICIS) melakukan lawatan kerja ke Western Australia, memasuki kota Perth seorang kawan dari Fakultas Agama Islam (FAI) bilang, ‘ini Islam pak Fuad, aku menemukan Islam di sini’; dengan nada kritik aku tanya, ‘Islamnya siapa pak?, yang aku tahu yang paling tahu Islam itu ya Muhammadiyah itu…, ya NU itu…, ya Pondok Pesantren itu…, ya…, kok tidak seperti ini…?!!’, beliau jawab, ‘dalam konsepnya pak Fuad…!!!’.
Keterangan Gambar: Dari kiri ke kanan,
Aku, Tongat, Sumali, Perwakilan LDF, paling belakang Sidik Sunaryo
dalam salahsatu kegiatan Nasional.

2. Di tahun 2005 aku (seorangan) melakukan lawatan kerja ke suatu Negeri, diantaranya aku mengunjungi organisasi Advokat tingkat Nasional, aku baru tahu tingkat pimpinan didominasi kalangan non pribumi (--perlu ditekankan disini, bahwa aku tidak mempermasalahkan pri dan non pri, sebab profesionalisme tidak mengenal pembedaan itu, hanya saja aku sekedar mengungkap apa adanya yang ada dilapangan saja--), dengan realitas itu aku tanya pada kawanku (Advocate And Solicitor), mengapa orang awak minim di struktural? (hanya sekedar ingin tahu), dan beliau menjawab, ‘sebab sudah ‘adat’ tak suka bila saudaranya berjaya, bahkan belum merasa puas kalau belum menjatuhkan saudaranya. Makna yang aku tangkap yaitu nafsu saling menjatuhkan sesama demi status.

3. Juga di tahun 2005 aku bertiga bersama Sumali (sekarang Direktur Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum UMM) dan Tongat (sekarang sedang menempuh program Doktor/S3 di Universitas Diponegoro Semarang) hendak melakukan lawatan kerja ke Batam, Singapore dan Malaysia, hendak berangkat via Bandara Juanda Surabaya, tiket pesawat pesan jauh hari pada orang Bawean, aku tinggal telpon aja. Okay…, tiba tanggal mainnya, dari Malang berangkat jam 02.30 dini hari naik trevel, sampai di Juanda…, aduh…, tiket tidak dapat, katanya diambil orang…, ya…, apa boleh buat, balik ke Malang naik taxi…!!!, lumayan pagi-pagi ngelencer ke Juanda…!!! 4. Di tahun 2006 aku melakukan lawatan kerja ke Batam, Singapore dan Malaysia berdua bersama bersama seorang kawan, oh iya…, beliau adalah salah seorang ahli hisap (maksud saya perokok berat, hehe). Dari Batam ke Singapore naik fery via Batam Centre, aku lihat beliau masih asyik merekok di buritan fery sambil menikmati alunan gelombang Selat Malaka, lalu aku bilang, ‘daripada entar ditanyai petugas, lebih baik buang aja rokok tu…’, dan beliau sepakat. Sesampainya di bagian pemeriksaan, kastam tanya, ‘awak bawa rukuk kah…?!!’, ‘tidak…!!’, jawab beliau, malah petugas tanya lagi dengan pertanyaan yang persis sama, aku jadi tercengan juga…, maka aku turut menjawabkan pula, ‘tak ade lah…!!’, lalu petugas jawab,’tu…, mengapa ade lighter di tangannya…?!!!; aduh…, dasar perokok, dibuang rokoknya masih tersisa korek api ditangannya. 5. Ada lagi pengalaman ke dua bersama Tongat dan Sumali. Seusai bersidang di Mahkamah Konstitusi RI di Jakarta, bermaksud terbang ke Surabaya…, jalanan Jakarta begitu macet…, tidak seperti biasanya, sesampai di Bandara Cengkareng, aduh…, pesawat sudah berangkat… Maka kami dating ke petugas, mereka bilang tiket sudah hangus…, pak Sumali langsung aja bilang, ‘tidak bisa, kami gugat…!!!’. Lalu kami mesti menunggu…., masih akan dibicarakan dulu katanya, dan kemudian dapat keputusan tiket tidak hangus, naik pesawat keberangkatan berikutnya…!!!. Catatan: untuk penerbangan domistik kita, kita ayang selalu menunggu, bahkan hingga berjam-jam karena penundaan.

6. Aku bersama Sidik Sunaryo (sekarang Dekan Fakultas Hukum UMM) serta beberapa kawan melakukan advokasi di luar kota, kejadian tersebut kira-kira tahun 1995, yaitu kasus a susila, tersangka bersikeras, bahwa ia telah menikah, maka itu tidak ada a susila…!!!. Kala ditanya dimana menikahnya, ia jawab di Bangil…, kala ditanya lagi, okay…, di Bangil…, di Bangilnya di mana, di rumahnya sifulan misalnya…,?’, ia jawab, ‘di dalam mobil bersama kawan-kawan….!!!’.

No comments:

Post a Comment

MENGGAYUH MEMAHAMI EKSISTENSI TUHAN

Oleh: A. Fuad Usfa Eksistensi Tuhan Berbicara tentang Tuhan berarti berbicara suatu yang gaib, abstrak. Tidak bisa ditangkap dengan penca in...