Thursday, July 8, 2010

CERBUNG

IYEM
Oleh: Aba
Westeren Australia, Medio Juli 2010
(Bagian 2)
S
ampailah Iyem di negeri orang. Ternyata iyem masih mesti menunggu panggilan sang calon majikan, oleh sebab itu ia mesti ditampung dulu dengan menumpang di rumah sang agen, paspor harus diserahkan di tangan sang agen…, aduh…, ia mesti bekerja pula di rumah sang agen, dan aduhai tanpa bayaran apapun. Siang dan malam ia bekerja. Saat itu terasalah bahwa sentuhan kekejaman telah menyapa dirinya. Lalu terbayanglah segala kekejaman sang majikan, penyiksaan demi penyiksaan yang pernah ia baca di berbagai media di Negara tercinta saat ia belum berangkat dulu, benar-benar membayanginya. Lalu ia berpikir, kemana harus mengadu…?!!, ke KBRI?!!, tak mungkin…!!, pikirnya, dan tiba-tiba bayangan pegawai KBRI yang satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa itu menjelma bagai hantu yang menakutkan. Dalam bayangannya, sang pegawai jadi murka, suaranya menggelegar dengan perkataannya yang teramat pedas, lebih pedas dari cabe rawit Bawean (cecenge letek), ‘kamu ke sini mau apa…?!!, mau kerja ataukah mau enak-enakan…?!!, kalau mau kerja maka kerjakan apa yang harus kamu kerjakan, jangan cengeng…!!!’, lalu sang pegawai menelpon sang agen, dan tak lama kemudian datanglah sang agen dan majikan dengan penuh kemenangan ‘menggeretnya’ kembali. Lalu muncullah bayangan dalam perasaan yang tidak-tidak pula atas dirinya, seraya bergumam sedih, ‘aduh Iyem…, tahukah engkau, bahwa engkau dilahirkan bukan untuk jadi budak, atau diperbudak…?!!!, tapi mengapa tali jerat telah memperangkapmu?, itulah jeritan batinnya yang dalam bayang ketakutan. Selanjutnya ia teringat akan pelajaran sejarah di sekolahnya dulu, yang dengan gagah pak gurunya berujar di depan kelas, ‘bahwa Indonesia telah dijajah selama lebih dari tiga setengah abad…, dan kini kita telah merdeka…, merdeka dari alam penjajahan’. Barulah ia memahami akan makna penjajahan…, hatinya protes kepada gurunya yang tiba-tiba dipandangnya bodoh…!!!, sebab penjajahan masih berkubang di negeri pertiwi, negeri ia lahir dan dibesarkan.
Jam sebelas malam baru ia bisa masuk bilik yang dihuni oleh beberapa kawan seperjuangan, dan harus bangun pagi-pagi buta.
*
Keesokan harinya ia dapat berita agak gembira, sebab sang agen mengatakan bahwa ia ada kepentingan ke luar negeri selama satu hari satu malam, maka selama lawatan sang agen itu ia dan kawan seperjuangannya tidak diperkenankan mengerjakan sesuatu apapun. Beberapa pasang mata sang calon pahlawan devisa saling mencuri pandang serta bibir-bibir mereka saling mencuri senyum saat sang agen mengeluarkan pengumuman bersejarah itu. Setidaknya ada dua keuntungan yang mereka akan peroleh dari lawatan sang agen, pertama mereka bisa istirahat dan yang kedua mereka bisa ngerumpi dengan leluasa. Betul juga mereka benar-benar dapat istirahat dang ngerumpi sampai larut malam dengan leluasa hingga mereka terlunglai dalam buaian.
*
Hari ini ada berita baru buat Iyem…, ia dapat panggilan sang majikan, tapi entahlah…, mengapa nasib mujur benar tiada berpihak padanya, ia tak habis pikir merenung nasibnya, ‘salah dosa apakah yang telah aku perbuat hingga nasibku begini?, apakah kurang baktiku pada kedua orang tua?, apakah kurang sujudku pada Ilahi Rabbi?, selama ini aku pikir aku selalu hidup lurus, jangankan melakukan kesalahan besar, atas kesalahan kecil saja hatiku berontak tak karuan. Kini aku tak mampu bergerak selain atas ketentuan majikan, hendak sujud pada Tuhan saja harus mencuri-curi…, aduhai, mengapa nasibku jadi begini…, aku pasrah padaMu ya Tuhan…!!!’. Iyem betul-betul tiada tahan akan tindihan nasib yang menimpanya.

( BERSAMBUNG)

No comments:

Post a Comment

MENGGAYUH MEMAHAMI EKSISTENSI TUHAN

Oleh: A. Fuad Usfa Eksistensi Tuhan Berbicara tentang Tuhan berarti berbicara suatu yang gaib, abstrak. Tidak bisa ditangkap dengan penca in...