Thursday, July 22, 2010

NUANSA 'CONTROVERSIAL'

ALI HARB (LIBANON)
Cuplikan Oleh: Aba

Pernahkah anda mendengar kata sepakat?, tentu jawabnya iya, itu adalah salah satu kata yang akrab dengan kehidupan kita sehari-hari; pernahkah kata itu terwujud dalam realita kehidupan ummat manusia?, jawabnya tentu tidak, sebab dari waktu ke waktu kehidupan manusia selalu diliputi perbedaan. Demikian pula dalam kancah pemikiran keagamaan. Dalam konteks fiqh kita mengenal pula istilah ijma' sebagai bermakna kesepakatan, namun istilah ijma’ itu bukan bermakna kesemua pandangan isu keagamaannya sepakat, dan untuk itu kita telah sepakat; maka bilamana ijma' dalam konteks fiqh saja sulit diperoleh, apatah lagi dalam kontek yang lebih luas, tentu kita akan bisa memahami realitas adanya ketidak sepakatan itu. Bahkan ketidak sepakatan itu bisa terjadi dalam pengertian yang amat radikal. Dalam nuansa kontroversi ini aku cuplikkan tulisan M. Kholidul Adib Ach, dalam islamlib.com bertanggal 24/08/2003, perihal pandangan sosok intelektual muslim Libanon yang bernama Ali Harb.Ali Harb merupakan sosok intelektual muslim kontemporer yang kontroversial, radikal dan transformatif, ia adalah salah seorang dosen filsafat di Universitas Bairut, Libanon. Pandangannya yang begitu kontroversi dan radikal itu nampak dalam konsep yang diusungnya, yaitu ‘kritik teks’ yang bermuara pada ‘kritik kebenaran’. Diantara dasar pemikirannya ia berpandangan bahwa teks adalah wujud yang independent baik dari unsur penyusunannya maupun realitas-realitas luar supaya bisa dieksiskan di tengah-tengah realitas yang ada. Ia berpandangan pula bahwa ‘perkataan’ adalah tipu daya dan teks adalah bentuk penipuan yang selalu memberi batasan di antara dimensi yang berbeda. Semua teks adalah sama, tidak ada kecuali. Berkenaan dengan ‘kritik kebenaran’ diantaranya ia berpandangan bahwa kebenaran sering menjadi suatu bentuk pengklaiman dari berbagai pihak secara subyektif dan menjadi konsep tunggal dan sederhana atau teologis metafisik yang amat jauh dari ranah penelitian dan pemikiran. Kebenaran itu sendiri merupakan wacana irrasional yang ‘diam’. Ali Harb berpandangan bahwa kebenaran itu relatif adanya.

No comments:

Post a Comment

MENGGAYUH MEMAHAMI EKSISTENSI TUHAN

Oleh: A. Fuad Usfa Eksistensi Tuhan Berbicara tentang Tuhan berarti berbicara suatu yang gaib, abstrak. Tidak bisa ditangkap dengan penca in...