Sunday, April 3, 2016

UJUD KESADARAN

UJUD KESADARAN
Oleh: A. Fuad Usfa
Kita ribut memaksakan suatu pandangan, baik dalam tanda kutip maupun tidak..., khususnya dalam kepemimpinan POLITIK, garis bawahi yg sy tulis kapital POLITIK dalam arti luas, dalam tanda kutip ataupun tidak... Ambisi2 untuk memimpin dg menggunakan bahasanya sebagai yg dinisbatkan pada bahasa Tuhan, hanya baginya, tidak bagi orang lain, sehingga yg disebut dg kemerdekaan dalam memahami esensi kebenaran hanya ada dalam retorika dalam bingkai2 POLITIK keakuan..., sehingga pemahaman2 keagamaan sering pula dipahami keberpihakan Tuhan pada bangsa dan negeri tertentu, sampai pun buah2an yg tumbuh di negeri itupun adalah buah 'sorgawi', dan seakan Tuhan tak pernah berpihak pada buah rambutan, buah kelengkeng, buah susu, buah ceri dst... Sy jadi tak heran manakala muncul istilah 'Islam Nusantara', yg menghendaki tatanan keberagamaan yg bergulir secara ramah dg pemahaman yg bergulir secara alami, rahmatan lil alamin...

Perebutan kekuasaan pun tak jauh dari konteks itu..., dalam kepemimpinan Nasional kita, kita telah disuguhkan pada realita, dan itu tentu harus dipahami sebagai suatu realita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita, garis bawahi, kita...
Dalam kancah kepemimpinan Nasional kita, coba kita cermati, misalnya di masa Gus Dur (pentolan NU) jadi Presiden, ketua MPR nya Amin Rais (pentolan MD), ketua DPRnya Akbar Tanjung (pentolan Pergerakan Mahasiswa Islam yg kuat), coba cermati apa yg terjadi...?, siapa yg paling getol nurunkan Gus Dur..., lalu siapa yg naik menggantikan Gus Dur...?. Lalu Amin Rais yg punya ambisi begitu kuat gagal, SBY bertahan dua periode, Soeharto nembus 30 tahunan..., Soekarno juga bertahan..., Soeharto bisa bertahan kokoh saat dekat dg kelompok 'mereka', dan mulai di awal 80an Soeharto mulai merapat pada kita, hempasan2 pun tetap tak henti2nya terhadap kepemimpinannya, kemudian merapuh, dalam kerapuhannya, siapa yg mengambil kesempatan maju kedepan paling getol menumbangkannya...?, hmmmmmm...

Kita telah cukup belajar pada sejarah, pakar2 kita dalam segala bidang adalah milik kita, bukan milik mereka, membina kehidupan berkemajuan ala kita adalah suatu keniscayaan..., tak perlu meniru mereka yg hari2nya bersitegang dg kekuatan politik saling menghancurkan dan membumi hanguskan..., seakan kasih Tuhan hanya berada dalam retorika.
(FB)

No comments:

Post a Comment

MENGGAYUH MEMAHAMI EKSISTENSI TUHAN

Oleh: A. Fuad Usfa Eksistensi Tuhan Berbicara tentang Tuhan berarti berbicara suatu yang gaib, abstrak. Tidak bisa ditangkap dengan penca in...