Monday, February 20, 2017

ANTRI DAN KULTUR

Oleh: A. Fuad Usfa

Saya baru saja membaca status Andre Tuwaidan, tentang kerisauan guru di Australia kalau anak muridnya tidak bisa antri.

Membaca itu saya jadi ingat di awal2 kami di sini, seingat sy di satu bulan pertama kami di sini.
Pada saat perayaan Hari Raya Idul Fitri yg diadakan di lapangan sepak bola lonjong (sepak bola yg paling populer di sini). Acara seperti ini biasa diadakan oleh komunitas muslim di sini, dari berbagai etnis, seperti Arab, Turki, Afghan, Melayu, Indonesia, dll. Acara tersebut diramaikan dg ragam permainan anak2, kuliner, hiburan, dll... Acara itu diadakan oleh komunitas 'kita' tapi sebagaimana pada umumnya acara2 seperti ini yg diadakan oleh komunitas dan agama apapun juga terbuka untuk umum.

Di acara itu sy bertemu dg bang Latif..., kami ngobrol2..., tiba2 beliau bilang pada sy seraya menunjuk ke arah tempat permainan anak2..., beliau bilang, 'kasihan anak orang putih itu..., coba lihat itu, ia diantar ibunya..., ia antri dari tadi, belum melangkah sudah diserobot..., dia diam saja..., terus diserobot...', ---begitulah kalau dibahasakan Indonesia, beliau biasa berbicara dg bahasa Melayu---, kembali ke pokok hal; akhirnya ibu itu menyerah dan mundur..., lalu bang Latif bilang, 'dia terpaksa mundur tidak bisa antri, kasihan', kata beliau.
#kita vs mereka

Itulah yg sy ingat diantara pengalaman pertama sy di sini... #antri...
(AFOF, Cannington WA, 8 Februari 2016)
(FB)

No comments:

Post a Comment

MENGGAYUH MEMAHAMI EKSISTENSI TUHAN

Oleh: A. Fuad Usfa Eksistensi Tuhan Berbicara tentang Tuhan berarti berbicara suatu yang gaib, abstrak. Tidak bisa ditangkap dengan penca in...