Friday, February 17, 2017

Cerpen: KAWAN SEKAMPUNG

CERPEN
Fiksi
KAWAN SEKAMPUNG
(Hidup itu Penuh Misteri)
Oleh: A. Fuad Usfa
Persis di depan rumahku, rumah sederhana, sesederhana keadaanku, tapi rumahku bersih, bahkan puntung rokok pun tak ada, yang memang kata orang merokok tak bagus untuk kesehatan, baik kesehatan badan maupun kesehatan ekonomi. Walau demikian toh teramat banyak orang ketergantungan pada rokok, yg memang, apapun alasannya, pembenaran akan kita temukan di mana-mana. Pun demikian aku tak pernah berpikir itu.

Persis di depan rumahku, rumah bercat putih, yang kata orang putih itu lambang suci, pun demikian tak ada orang yg menanyakan padaku mengapa rumahku di cet putih, mungkin orang tak lagi peduli dg lambang2, di jaman kemunafikan merajalela.

Persis di depan rumahku, depan rumah yg tak becek walau baru saja hujan lebat mengguyur. Aku jumpa kawanku, kawan masa kecil, masa kebahagiaan dijumpai kala kami berenang di sungai, naik rakit dari batang pisang, kala kami mandi2 bersama, lepas semua pakaian dan sama berlompatan mencebur ke arus sungai, kala ku tak pernah membayangkan adanya jenis dalam diri kami.

Aku jumpa kawan masa kecilku di depan rumahku. Mulanya ku tak tahu kalau ia itu kawan masa kecilku. Kawan masa kecilku itu berpakaian perlente, ia berjalan pelan sambil matanya memandang2  bangunan rumah di sekitar rumahku. Aku baru curiga bahwa ia adalah teman masa kecilku setelah ku amati ia, kulihat tahi lalat di pipi kanannya, di pelipis kirinya ada sedikit bekas luka, aku ingat kawan masa kecilku terluka di pelipis kirinya, kala jatuh mengejar layang2, jatuh di anak sungai sebelah rumahku, rambutnya lurus, matanya sedikit sipit tapi serasi dg bentuk wajahnya. Mulanya aku berpikir, mungkin saja ia hanya mirip kawan masa kecilku, tapi perasaan ku mengatakan bahwa itu pasti kawan masa kecilku. Oleh sebab itu aku menyapanya, 'selamat pagi bapak...', ia menjawab, 'selamat pagi juga bapak..., apa kabar pagi ini...?, jawabnya, 'alhamdullilah baik', jawabku..., dan aku sambung dg pertanyaan, 'maaf, bapak ini dari kampung Delima ya pak...', dan aku sengaja tak menyebut Desanya, Kecamatannya, Kabupatennya, Provensinya, maupun Negaranya, sebab bila benar dari kampung Delima tentu aku dapat memastikan, bahwa ia itu memang kawan masa kecil di kampungku. Mendengar pertanyaanku itu, ia kaget, matanya terbelalak, mulutnya terbuka, dan dari mulutnya itu terdengar suara, 'hah...', lalu ia menjawab, 'iya..., betul..., apa bapak mengenal saya?', yg tentu saja serta merta aku jawab, 'aku Pardege..., anak kampung Delima..., tentu teman masa kecilmu bukan...?', ia terkaget-kaget, langsung menyalamiku, dan kami berpelukan, rasa hati kami teramat senang, berjumpa kawan masa kecilku, setelah puluhan tahun tidak berjumpa.
(AFOF, Cannington WA, 18 Februari 2017)
(FB)

No comments:

Post a Comment

MENGGAYUH MEMAHAMI EKSISTENSI TUHAN

Oleh: A. Fuad Usfa Eksistensi Tuhan Berbicara tentang Tuhan berarti berbicara suatu yang gaib, abstrak. Tidak bisa ditangkap dengan penca in...